BBM dan Alasan Demo Mahasiswa

 

 

Seringkali konflik menjadi solusi dari permasalahan. Terutama buat orang-orang yang miscommunication. Yang jelas, bagi yang lebih waras harus lebih meningkatkan energi guna mencari metode yang tepat. Bukan seperti peningkatan harga BBM yang mengacu langsung pada dunia. Seyogyanya kembalikan pada tubuh kita sendiri (bangsa), jalani saja dulu.. kalau memang ada kegoncangan, yang mengharuskan perubahan pasti bagian tubuh yang lain (elemen bangsa) bisa ‘nerima’, tapi kalau belum apa-apa sudah ambil tindakan padahal tidak berpengaruh apa-apa pada tubuh itu namanya cari perkara. (blind mode on).


 

Sebagai contoh, seorang pengusaha rental komputer di sekitar kampus -- sewaktu ada kenaikan BBM yang secara otomatis akan berimbas ke semua sektor -- pasti akan berpikir sampai botak apakah biaya rental dan print (cetak) akan dinaikkan juga.

 

Layaknya Skripsi, variabel dan sub variabel yang menjadi bahan pertimbangan pastilah banyak sekali. (belum lagi yang dihadapi adalah mahasiswa yang sedang mencari ilmu... yang sekarang sedang memperjuangkan agar tidak berimbas ke biaya pendidikannya)

 

Tapi kalau saya pribadi begini:

 

Tidak usah terburu-buru dinaikkan..

Biarkan aja dulu, ikuti perkembangan.. toh kita juga punya celengan..

Gunakan parameter tubuh sendiri, ada keguncangan atau tidak..?  

 

(Sudah tentu untung-rugi menjadi pertimbangan utama, namanya juga usaha)

 

Kalau ada ya dinaikkan,

Pasti waktu ada kenaikan harga, konsumen sudah menyadari

 

MEMUASKAN SEMUA PIHAK ITU SUSAH (ungkapan dari teman saya) 

 

Begitu juga dengan yang sedang dialami negara kita...

 

Memang negara ini mau jadi badan usaha, untungnya buat siapa? 

 

Buat pemerintah, bantu dong mahasiswa kembali ikhlas dan belajar. Yang tujuannya adalah "menghilangkan kebodohan, bukannya cari jalan untuk dapat kerjaan."

 

Salam 

 

Tahukan Anda...

Pemahaman diri masing-masing pribadi biasanya diarahkan pada kecerdasan yang menonjol/dominan pada dirinya. Misal: (1) orang logis matematik, memandang dirinya secara analitis. (2) orang linguistik, memandang diri/mendefinisikan diri dengan kata-kata  (3) orang kinestetik, merasakan realita pada tulang belulang melalui gerak tubuh. Sebuah kekeliruan apabila kita menilai orang lain melalui kebiasaan atau kecerdasan bawaan yang sama dengan diri kita. Hal ini menyalahi/tidak sesuai dengan “teori kecerdasan majemuk yang validasi tertingginya adalah perbedaan individu.”

 

 

© Copyright 2008 infoskripsi.com.
Some rights reserved. Re-Design by: infoskripsi
Infoskripsi