Masalah Dalam Filsafat

 

Idealisme  

 

Ringkasan

 

Doktrin idealisme menekankan bahwa “apa saja yang diketahui ada itu harus bisa di indera secara mental”. Karakter dari doktrin ini berseberangan dengan pemahaman umum yang memandang bahwa pada umumnya, objek fisik seperti meja atau matahari itu terbuat dari sesuatu hal yang sangat berbeda sama sekali dari apa yang kita sebut dengan “akal” atau “pikiran” kita. Kita memandang bahwa dunia luar itu merupakan sesuatu yang bebas dan terbuat dari benda fisik yang terbuat dari suatu hal tertentu. Dibandingkan dengan pandangan  umum kita, idealisme akan sangat sulit untuk kita yakini. Dalam bab terakhir, Russel menyatakan bahwa cara bagaimana objek fisik itu ada sangat berbeda dengan dalil yang ada secara umum; meskipun sebenarnya dua hal ini benar-benar mempunyai korespondensi yang sama. Bukan hubungan maupun pemahaman umum ini yang mampu menjelaskan kemungkinan untuk secara langsung memahami sifat alamiah yang riil dari dunia luar. Penolakan pada idealisme yang didasarkan bahwa idealisme berseberangan dengan pemahaman umum akan terlihat tergesa-gesa.


Bab ini menelaah ulang dasar dari dalil idealisme ini dibentuk. Russel memulai dengan argumentasi yang diutarakan oleh Bishop Berkeley. Berkeley mengungkapkan filosofinya dalam suatu kerangka teori pengetahuan. Dia menyatakan bahwa objek dari indera kita, yakni data indera kita, harus bergantung pada kita sendiri, ketika kita berhenti mendengarkan, atau merasakan, atau melihat, atau memandang, maka data indera kita tidak akan dapat eksis lagi. Data indera ini mestinya berada dalam suatu bagian tertentu, dalam pikiran kita. Russel juga menerima penjelasan dari Berkeley ini sehingga sejauh ini tetap “valid”. Meskipun demikian, beberapa ekstrapolasi yang lebih jauh akan membuat ini menjadi tidak valid. Berkeley meneruskan bahwa satu hal yang membuat kita yakin dengan persepsi mereka akan keberadaan suatu hal adalah data indera kita. Karena data indera kita berada di dalam pikiran, maka semua hal yang bisa diketahui itu berada didalam pikiran kita. Realitas merupakan suatu produk dari pikiran kita, dan “sesuatu” itu kadang tidak ada di dalam pikiran orang lain.

Berkeley menyebutnya potongan dari data indera, atau hal yang bisa dengan segera diketahui ini sebagai “gagasan”. Ingatan dan hal-hal yang diimajinasikan juga bisa diketahui dengan segera dengan adanya ingatan yang bagus dalam pikiran yang bekerja dan inipun juga disebut dengan gagasan. Sesuatu yang mirip dengan pohon muncul, menurut Barkeley, ini karena seseorang mempersepsikan pohon tersebut. Apa yang riil ketika sebuah pohon muncul dalam persepsi, merupakan sebuah gagasan dari suatu idiom filosofis yang terkenal: esse is percipi derives; pohon itu ada karena pohon itu dipersepsikan. Bagaimana jika tidak ada seorang pun yang mempersepsikan adanya pohon tersebut? Berkeley mengakui keyakinan akan dunia luar yang tidak terikat oleh manusia. Filsafatnya menyerukan bahwa dunia dan segala sesuatu didalamnya merupakan suatu gagasan yang muncul dalam pikiran Tuhan. Apa yang kita sebut dengan sesuatu yang riil merupakan suatu objek “fisik” atau gagasan yang terus berkesinambungan yang ada dalam pikiran Tuhan. Pikiran kita tercakup dalam persepsi Tuhan, maka dari itu setiap orang yang berbeda akan membedakan persepsi pada objek yang sama ini bersifat variabel namun juga sama karena tiap hal tersebut merupakan potongan dari satu hal yang sama. Tidak ada suatu hal yang bisa mewujud atau bisa diketahui kecuali “gagasan” tadi.

Russel merespons idealisme Barkeley dengan melakukan pembahasan pada kata “gagasan”. Russel mengklaim bahwa Berkeley menciptakan suatu manfaat dari kata ini yang membuatnya lebih mudah untuk menyakini argumentasi-argumentasi idealisme tahap lanjut. Karena kita berfikir bahwa gagasan ini merupakan suatu hal yang terkait dengan mental, maka ketika kita diberitahu bahwa sebuah pohon juga merupakan suatu gagasan, maka penerapan yang mudah untuk kata “gagasan” akan menempatkan pohon tersebut di dalam pikiran kita. Russel menyatakan bahwa penjelasan tentang sesuatu itu ada “di dalam pikiran” ini sulit untuk dipahami. Kita sedang berbicara tentang melibatkan beberapa konsep atau beberapa orang “dalam pikiran”,  ini berarti bahwa pemikiran tentang sesuatu atau orang tersebut berada dalam pikiran kita, bukan berada dalam benda itu sendiri. Maka dari itu, “ketika Berkeley mengatakan bahwa pohon tersebut mestinya berada dalam pikiran kita jika kita dapat mengetahui sesuatu tersebut, segala hal yang dia memang benar adalah bahwasannya pemikiran tentang pohon tersebut memang berada dalam pikiran kita.” Russel mengatakan bahwa maksud dari Berkeley tersebut merupakan suatu kebingungan yang sangat nyata. Dia berusaha untuk menguraikan penginderaan ketika Berkeley menggunakan data indera dan dunia fisik. Berkeley memperlakukan penjelasan data indera ini sebagai suatu hal yang subjektif, terikat pada manusia untuk bisa ada. Dia melakukan pengamatan ini, kemudian dia mencari untuk membuktikan bahwa segala hal “yang bisa diketahui dengan segera” itu berada dalam pikiran dan memang hanya berada dalam pikiran saja. Russel menunjukkan bahwa pengamatan tentang keterikatan data indera ini tidak akan membawa pada pembuktian dari hal yang dicari Berkeley. Apa yang dia butuh untuk membuktikan adalah “dengan bisa diketaui, maka benda tersebut berada dalam suatu kondisi dalam mental.”

Russel melanjutkan untuk mempertimbangkan sifat dasar dari gagasan, dengan tujuan untuk menganalisa dasar dari argumen Berkeley. Berkeley mengacu pada dua hal yang berbeda dengan menggunakan kata yang sama, yakni “gagasan”. Yang pertama adalah hal yang kita bisa sadari, seperti warna dari meja Russel, dan yang lainnya adalah tindakan yang aktual dari keraguan.  Sementara itu tindakan yang berikutnya tampak terlihat jelas sebagai suatu sifat mental; pembentukan “sesuatu” tidak mirip sama sekali dengan ini. Berkeley, namun disangkal oleh Russel, menciptakan efek dari kesepakatan alamiah antara dua nuansa “gagasan” ini. Kita sepakat bahwa keraguan juga muncul dalam pikiran kita, dan dengan adanya hal ini maka segera kita akan sampai pada pemahaman dalam makna yang lain, bahwasannya hal-hal yang kita pertanyakan itu mrupakan gagasan juga dan terletak di dalam pikiran kita juga. Russel menyebut kesalahan alasan ini dengan  “equivokasi yang tidak disadari.” Kita mendapati diri kita pada ujung suatu keyakinan bahwa apa yang bisa kita pertanyakan itu sebenarnya telah berada di dalam pikiran kita, inilah “kesalahan fatal” dari argumentasi Barkeley.

Russel telah membuat perbedaan antara tindakan dan objek, menggunakan istilah “gagasan.” Dia kembali kepada hal ini karena dia mengklaim  bahwa sistem keseluruhan dari pengetahuan yang kita peroleh ini telah tercakup di dalam pikiran juga. Belajar dan kemudian menjadi tahu tentang sesuatu itu melibatkan hubungan antara pikiran dengan sesuatu, apapun, selain pikiran itu sendiri. Jika, menurut Barkeley, kita sepakat bahwa segala sesuatu yang bisa ketahui itu berada dalam pikiran, maka kita dengan segera akan membatasi kapasitas manusia untuk meraih pengetahuan. Untuk mengatakan bahwa apa yang kita tahu itu “berada dalam pikiran” seolah-olah kita bermaksud untuk mengatakan “sebelum berada dalam pikiran” maka kita berbicara tentang tautologi. Meskipun demikian, hal ini akan membawa kita kesimpulan yang kontradiktif bahwa apa yang sebelumnya belum berada dalam pikiran mungkin tidak ada dalam pikiran dan seperti halnya itu tidak akan berada dalam mental kita. Sifat dari pengetahuan sendiri menolak argumentasi Barkeley. Russel menghapuskan argumentasi Barkeley dari idealisme.

 

Analisis

Dalam semangat argumentasi yang menentang asumsi idealistis, Russel juga menyerang pandangan umum bahwa apa saja yang “relevan bisa saja tidak bermakna penting bagi kita tidak akan pernah menjadi riil”. Satu alasan langsung untuk menolak pandangan yang salah ini adalah adanya ketertarikan alamiah manusia tentang hal pengetahuan “praktis” maupun “teoritis”. Segala sesuatu yang riil ini mempunyai relevansi yang alami dengan intelektualitas “pengatahuan yang paling diinginkan tentang kebenaran dari alam semesta ini.” Maka dari itu tidak ada alasan apapun untuk meyakini bahwa ketertarikan manusia tentang pengetahuan akan memasung pengetahuan itu dalam pengalamannya sendiri. Apa saja yang bisa diketahui ini relevan dengan mempraktikan pemahaman, bukan berdasarkan konvensi.

Dengan memperhatikan pernyataan “kita tidak dapat mengetahui apapun yang ada ketika kita tidak mengetahuinya”, maka Russel membedakan dua istilah bahasa yang umum dalam kata “tahu”. Pertama adalah rasa dimana kita tahu sesuatu hal yang benar – pengetahuan tentang kebenaran, yang menggali tentang penilaian serta keyakinan kita. Pemahaman yang lain tentang pengetahuan yang dibedakan oleh Russel adalah pengetahuan tentang sesuatu, dalam hal ini kita dihadapkan pada data indera kita.

Walaupun begitu, dimungkinkan bagi kita untuk mendapatkan jenis pengetahuan yang lain – dimungkinkan bagi kita untuk mengetahui eksistensi tentang sesuatu yang tidak diketahui atau dipahami oleh siapapun. Jika saya diperlihatkan pada sesuatu, kemudian saya mendapatkan pengetahuan bahwa hal itu ada; walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa “kapanpun ketika saya tahu saya bisa memahami sesuatu bahwa sesuatu tersebut memang ada, maka saya atau orang lain juga harus mengerti tentang sesuatu tersebut.” Hal ini lebih mungkin jika Russel melengkapi bahwa ketika saya bisa mendapatkan suatu pengetahuan dari suatu pendeskripsian. Disini, Russel merumuskan sebuah hipotesis yang akan dibawanya dalam beberapa bab berikutnya. Dia menyatakan, “dalam suatu hal yang diasumsikan pada beberapa prinsip umum, maka eksistensi dari sesuatu hal yang menjawab deskripsi ini dapat dipahami dari eksistensi sesuatu yang saya ketahui.” Dalam bab berikutnya, Russel akan menjelaskan pengetahuan dari pemahaman dan pengetahuan dari pendeskripsian.

Praktik dari filsafat analitis ini muncul dari pandangan analisis Russel pada apa yang kita maksud dengan “gagasan” atau “tahu.” Seperti para filsuf bahasa umum di era modern ini, Russel terfokus pada peranan bahwa kata-kata tersebut dalam permasalahan ini berperan dalam kehidupan dari pembicara umum. Analisis Russel, khususnya pada kasus idealisme dari Berkeley ini, keluar dari kebingungan filosofis dengan mengekspos kecenderungan dari kesalahan arah berdasarkan bentuk ketata-bahasaan yang menciptakan pertanyaan atau frasa. Dalam melakukan hal ini, dia mendapatkan suatu pandangan yang bermakna tentang struktur dunia melalui struktur bahasa.

 

 

 

 

 

 

Tahukan Anda...

Disciplines discipline knowledge: (1) making claims liable for adjudication, (2) producing expertise, and (3) defining truth. (Robert Frodeman and Carl Mitcham)

 

© Copyright 2008 infoskripsi.com.
Some rights reserved. Re-Design by: infoskripsi
Infoskripsi