Infoskripsi arrow Reference arrow Research Articles arrow Hubungan Nilai Kesuksesan
Hubungan Nilai Kesuksesan





 

 

 

HUBUNGAN NILAI KESUKSESAN, EKSPEKTANSI KESUKSESAN, DAN MOTIVASI BERPRESTASI REMAJA MISKIN PUSAT PENGEMBANGAN ANAK COMPASSION-MALANG

 

 

Salah satu penyebab kemiskinan adalah adanya culture of poverty dan streotipe orang miskin tidak bisa maju, yang menyebabkan masyarakat miskin tidak memiliki keinginan atau keyakinan untuk sukses. Lingkungan budaya dan streotip miskin mungkin memeri pengaruh negatif pada motivasi berprestasi, nilai dan ekspektansi remaja miskin terhadap kesuksesan. Namun bila melihat ciri-ciri remaja pada umumnya, dimana remaja cenderung idealis, memiliki pemikiran fantasi ke depan dan memiliki nilai pribadi yang kadang tidak sesuai dengan orang dewasa atau lingkungannya, mungkin saja remaja miskin tidak terimbas pengaruh budaya dan streotip kemiskinan dari lingkungan. Kesenjangan pendapat ini merupakan bagian latar belakang permasalahan penelitian.

Tujuan penelitian ini adalah untuk; (1) mengetahui bagaimana ekspektansi kesuksesan, nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion (2) mengetahui adakah hubungan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion (3) mengetahui adakah hubungan antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion (4) mengetahui adakah hubungan antara nilai kesuksesan, espektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion


 

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan, sedangkan variabel terikat adalah motivasi berprestasi. Penelitian ini didasari dengan rancangan penelitian lapangan dengan pendekatan kuantitatif. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala nilai kesuksesan, skala ekspektansi kesuksesan dan skala motivasi berprestasi.

Populasi pada penelitian ini adalah remaja yang hidup dalam kemiskinan ekonomi, yang terdaftar dalam Pusat Pengembangan Anak Yayasan Compassion Indonesia di kota Malang. Sampel diambil dengan teknik purposive sample dan data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif, analisis korelasi dan analisis regresi ganda.

Hasil penelitian ini adalah; (1) sebagian besar tingkat motivasi berprestasi remaja miskin berada pada kategori rendah (2) sebagian besar tingkat nilai kesuksesan berprestasi remaja miskin berada pada kategori rendah (3) sebagian besar tingkat motivasi berprestasi remaja miskin berada pada kategori tinggi (4) ada hubungan yang signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi (5) ada hubungan antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi (6) ada hubungan antara nilai kesuksesan dan nilai kesuksesan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi.

Kata kunci:  nilai kesuksesan, ekspektansi kesuksesan, motivasi berprestasi, remaja miskin.

Naskah artikel ini diambil dari skripsi “Ria Uli Hasibuan” Prodi Psikologi Universitas Negeri Malang Angkatan 2003

 

Keadaan ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk sejak krisis moneter tahun 1998, disusul kenaikan bahan bakar minyak dan harga beras pada awal tahun 2005 menyebabkan jumlah orang-orang miskin bertambah banyak. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui penduduk miskin pada Maret 2006 mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75 persen dari total jumlah penduduk (Berita Resmi Statistik, 2006). Bertambahnya penduduk miskin secara otomatis berarti semakin manambah banyak keluarga yang sulit untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Bila melihat fakta yang ada di Indonesia, selain merupakan permasalahan ekonomi, kemiskinan juga menjadi akar permasalahan berbagai aspek kehidupan. Kemiskinan mempengaruhi bidang kesehatan masyarakat. Ketidakmampuan finansial menyebabkan masyarakat miskin sering tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, sulit untuk membiayai pengobatan ketika sakit, keterbatasan dana untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang baik dan bahkan menyebabkan kejadian yang cukup ekstrim seperti kelaparan di beberapa daerah di Indonesia yang menyebabkan banyak balita menderita gizi buruk. Prasetyo (2006:10) menulis “setiap hari lahir sekitar 11.000 anak Indonesia, namun 800 di antaranya meninggal sebelum usia lima tahun oleh penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah”.

Kemiskinan mempengaruhi kehidupan sosial, kemiskinan sering kali menyebabkan timbulnya pembedaan status sosial, yang membedakan kedudukan, peranan, dan tanggung jawab seseorang dalam masyarakat sehingga menimbulkan kesenjangan sosial. Kemiskinan juga menyebabkan permasalahan sosial, seperti pelacuran anak. Julianto (dalam Prasetyo, 2006:43) mengungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kakak yang menunjukkan bahwa salah satu sebab utama terjadinya pelacuran anak, di antaranya adalah ketidakmampuan untuk bersekolah.

Kemiskinan membatasi kesempatan anak-anak memperoleh pendidikan seperti yang diungkapkan dalam Kompas (2007:1) “sejumlah warga negara kurang mampu menyatakan pesimis bisa memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak mereka, minimal hingga jenjang SLTA. Umumnya, kendala yang mereka hadapi adalah belitan kemiskinan sehingga prioritas pendidikan tergeser oleh kebutuhan sehari-hari”.

Kemiskinan dapat mempengaruhi stabilitas keamanan dan kenyamanan masyarakat karena kebutuhan yang tidak terpenuhi membuat keresahan masyarakat bertambah sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial. Seperti demonstrasi menuntut kebijakan pemerintah, pelegalan larangan-larangan umum dengan alasan ketidakmampuan ekonomi, tipisnya rasa nasionalisme bangsa oleh karena ketidakpuasan terhadap pemerintah dan sebagainya.

Kemiskinan mempengaruhi tindak kriminalitas. Aristoteles (dalam Haba, 2005) seorang filsuf Yunani kuno mengungkapkan “Kemiskinan adalah orang tua dari revolusi dan kriminalitas”. Banyak tindak kriminalitas diakibatkan oleh kemiskinan, seperti kasus pencurian, penjualan anak bahkan pembunuhan yang disebabkan kerena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam hal ini jelas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyakit bangsa yang sangat menghambat pembangunan dan harus terus diatasi apabila tidak menginginkan bangsa menjadi semakin terpuruk. Data perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak (UNICEF) menyatakan, dua sampai tiga juta anak Indonesia akan disebut sebagai generasi yang hilang akibat kekurangan pangan, penyakitan dan tidak berpendidikan (Prasetyo, 2006:11).

            Beberapa ahli juga mengatakan bahwa kemiskinan adalah patologi sosial. Menurut Matza dan Miller (dalam Haba, 2005) tentang kemiskinan “Above all it is social pathology, which is to say that disrepute is the imputation or stigma that goes along with being sub-employed” oleh karena itu pemerintah, segenap elemen masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat perlu mencurahkan perhatian khusus untuk mengentaskan kemiskinan.

            Pandangan akan batasan dan faktor-faktor penyebab kemiskinan memang beragam. Scarpitti (1992:209) menulis bahwa masyarakat Amerika memiliki pandangan tentang kemiskinan yang khas dan keras. Pandangan masyarakat ini meyakini bahwa orang miskin menjadi miskin karena kegagalan mereka sendiri. Akibatnya, kemiskinan dilihat sebagai permasalahan individual dengan solusi-solusi individual

            Scarpitti (1992:211-212) juga menguraikan pandangan masyarakat Amerika yang tertuang dalam American dream mengenai pandangan terhadap budaya kemiskinan. Budaya kemiskinan didefinisikan sebagai suatu cara hidup yang dilambangkan dalam masyarakat urban dan perkampungan kumuh. Hal ini terdiri dari banyak jalinan sosial, ekonomi dan faktor-faktor psikologis, termasuk disorganisasi keluarga dan tidak merencanakan masa depan. Pendapat budaya kemiskinan masyarakat Amerika ini mendorong banyak stereotip terkemuka, seperti orang-orang miskin tidak mau bekerja, mereka tidak dapat menunda kepuasan dan mereka malas. Asumsi ini menganggap kemiskinan berasal dari moral yang miskin, bukan karena kurangnya uang mereka. Anggapan dominan tentang kemiskinan ini dihasilkan dari budaya etika kerja Protestan masyarakat Amerika dan American dream yang berpikir bahwa dengan berkerja keras dan keyakinan, seseorang dapat mengusahakan kesuksesan. Menurut keyakinan ini, orang-orang mengendalikan hidup mereka sendiri dan hanya membutuhkan aplikasi diri untuk menghindari menjadi miskin.

            Hasbullah (2006:16) juga mengungkapkan bahwa kemiskinan terjadi bukan semata karena pendidikan yang rendah, akses sumberdaya ekonomi terbatas, dan kurang modal melainkan manusia juga hidup dengan tingkat survival yang banyak ditentukan oleh spektrum yang lebih luas yaitu nilai-nilai dan struktur organisasi sosial dimana mereka ada di dalamnya. Seseorang itu menjadi miskin tidak terpisahkan dari sitem sosial yang berlaku yang telah membentuk budaya kemiskinan.

            Tetapi tidak semua orang menyetujui pandangan ini. Masih banyak faktor seperti masalah ekonomi, politik, struktur sosial, bencana alam, dan hal-hal lain yang dapat menyebabkan kemiskinan.

Namun salah satu penelitian McClelland (dalam Buck, 1988:383) ternyata mendukung pandangan masyarakat Amerika bahwa kemiskinan berkaitan dengan kualitas psikis individu. McClleland mencoba menunjukkan bahwa ajaran Protestan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kebutuhan berprestasi di antara para pengikutnya. Ia mengemukakan bahwa ideologi Protestan yang cenderung mendorong orang tua untuk menekankan kemandirian dan keunggulan sejak usia awal membuat kebutuhan berprestasi semakin tinggi. Dia juga berpendapat bahwa hal ini dapat digeneralisasikan pada kebudayaan lain dan tingkat ekonomi lainnya.

McClelland melakukan beberapa penelitian dengan tempat dan subyek yang berbeda untuk membuktikan hubungan tingkat pertumbuhan ekonomi dan achievement motivation (motivasi berprestasi) seperti menggunakan nilai-nilai dalam buku cerita anak-anak, analisis literatur Yunani kuno, tingkat konsumsi listrik dan lain-lain. Secara keseluruhan hasil penelitian yang dilakukan McClelland konsisten dengan tesis bahwa nilai-nilai budaya tertentu mendorong kebutuhan berprestasi dan kebutuhan ini merupakan salah satu faktor penting mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Buck,1988:384). Sehingga dari hal ini, dapat disimpulkan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan meningkatkan motivasi berprestasi seseorang untuk keluar dari kemiskinan.

McClelland (1953:79) memberikan pengertian motivasi berprestasi sebagai suatu usaha untuk mencapai kesuksesan, yang bertujuan berhasil dalam persaingan dengan berpedoman pada ukuran keunggulan tertentu. Eccles (2002) menyatakan bahwa motivasi berprestasi memiliki hubungan dengan nilai dan ekspektansi kesuksesan.

            Menurut Rokeach (1980:160) nilai merujuk pada kriteria untuk menentukan tingkat kebaikan, keburukan dan keindahan. Nilai (Value) merupakan pikiran-pikiran yang dimuat secara afektif tentang objek, ide-ide, tingkah laku, dan lainnya, yang menentukan tingkah laku, tapi tidak wajib untuk melakukannya. Nilai-nilai kemadirian, keunggulan dan semangat berprestasi, perlu ditanamkan sedini mungkin, sehingga pada saat usia seseorang memasuki usia produktif mereka dapat menghasilkan keluaran yang baik disertai sikap dan ketahanan mental berusaha yang matang.

Eccles (dalam Eccles & Wigfield, 2002, Wigfield, Tonks, & Eccles, 2002) memberikan definisi ekspektansi kesuksesan (expectatancy for success) sebagai keyakinan individu tentang bagaimana mereka dapat melakukan sesuatu di masa depan di mana keyakinan tersebut didasari oleh kemampuannya yang dimiliki. Keyakinan seperti ini sangat penting untuk memotivasi seseorang meraih keberhasilan. Dukungan terhadap pernyataan ini sampai sekarang dapat dilihat dengan banyaknya buku tentang kesuksesan yang mengemukakan bahwa kunci kesuksesan ditentukan oleh keyakinan, harapan, keinginan, motivasi, impian (Elfiki, 2003, Schwartz, 1996).

Seperti telah diungkapkan kemiskinan memang merupakan permasalahan yang pelik. Kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor dan memberi dampak negatif pada banyak sektor, di mana beberapa faktor membentuk siklus bolak-balik yang sukar putus. Hasbullah (2006:17) mengatakan bahwa penaggulangan kemiskinan hanya akan membawa hasil jika dilakukan gerakan bersama oleh setiap komponen pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, LSM dan masyarakat. Dan mengingat bahwa penting bagi masyarakat miskin memiliki komponen psikologis yang kuat seperti motivasi berprestasi yang tinggi, nilai-nilai yang positif dan harapan yang tinggi untuk sukses sebagai kekuatan dorongan untuk keluar dari kemiskinan, maka upaya pembentukan kualitas psikologis demikian penting untuk dilakukan.

Compassion merupakan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau yayasan sosial yang bergerak dalam usaha mengentaskan kemiskinan melalui program Pusat Pengembangan Anak (PPA). Program ini membiayai, membina, memberikan bantuan pendidikan intelektual dan pembinaan psikologis kepada anak-anak (tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar) dan remaja (tingkat sekolah menengah pertama dan mengengah atas) yang orang tuanya masuk dalam kategori miskin. Sasaran program ini adalah untuk mengusahakan pengembangan rohani, pengembangan jasmani, pengembangan kognitif serta pengembangan sosio-emosional anak. Dengan usaha ini diharapkan agar anak-anak dan remaja miskin tersebut dapat memperoleh penghidupan yang lebih baik di masa depan dan dapat ikut membangun bangsa.

Namun berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, pada kenyataannya banyak remaja miskin yang di bina dalam Pusat Pengembangan Anak Yayasan Compassion masih memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Ada kemungkinan keterbatasan ekonomi dianggap sebagai halangan besar bagi masyarakat miskin untuk berambisi merealisasikan dorongan dan kebutuhan untuk maju sehingga ekspektansi remaja ini terhalangi. Karena mereka menderita kemiskinan maka seolah-olah mereka tidak berdaya untuk mencapai cita-cita yang tinggi, sehingga cenderung memilih cara hidup pasrah, mengalir dan hanya menjalani apa yang ada. Bahkan hal ini lebih diperparah dengan adanya strereotipe budaya yang cenderung membatasi. Kuntoro (1995:44) mengungkapkan bahwa “dalam budaya masyarakat miskin seperti di Jawa, motivasi dan kebutuhan untuk maju yang melebihi batas seolah-olah tidak disetujui umum, sebagaimana ungkapan “Cebol Nggayuh Lintang”. Ungkapan ini menunjukkan sesuatu yang tak masuk akal jika orang miskin mempunyai cita-cita tinggi”. Atau mungkin salah satu penyebab kurangnya motivasi berprestasi miskin ini dikarenakan nilai-nilai budaya kemiskinan yang terinternalisasi dari lingkungan.

Menurut Mahmud (1989) masa remaja merupakan masa yang penting bagi perkembangan prestasi karena selama masa remaja inilah remaja membuat keputusan penting sehubungan dengan masa depan pendidikan dan pekerjaan. Prestasi di sekolah dan di dalam pekerjaan sangat terkait. Berprestasi baik di sekolah dan di dalam pekerjaan sangat terkait. Berprestasi baik di sekolah pada umumnya meratakan jalan untuk memperoleh pekerjaan yang baik pula.

Selain mementingkan prestasi, Piaget (dalam Santrock, 1995:10) menambahkan bahwa salah satu ciri pemikiran operasinal formal remaja adalah bahwa pada tahap perkembangannya, remaja memiliki pemikiran idealis. Dalam pemikiran yang idealis ini, remaja mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal mereka dan orang lain dengan menggunakan standar-standar. Sementara pada masa anak-anak lebih berpikir tentang apa yang nyata dan apa yang terbatas, selama masa remaja, pemikiran-pemikiran sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan. Sukanto (1996:10) juga menambahkan salah satu ciri remaja adalah menginginkan sistem nilai dan kaidah yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya tidak selalu sama dengan sistem nilai dan kaidah yang dianut oleh orang dewasa. Bila melihat ciri-ciri remaja ini ada kemungkinan remaja miskin tidak tergantung pada keadaan yang ada di lingkungan karena cenderung menuruti pemikiran dan nilai-nilai pribadi.

Berdasarkan uraian di atas terdapat pemikiran yang bertentangan. Apakah budaya kemiskinan (culture of poverty) yang umumnya ada dalam lingkungan masyarakat miskin dan stereotip orang miskin sulit maju mempengaruhi ekspektansi kesuksesan dan nilai kesuksesan serta motivasi berprestasi remaja miskin atau tidak mempengaruhi ekpektansi kesuksesan, nilai kesuksesan, serta motivasi berprestasi remaja miskin karena dalam tahap perkembangannya remaja cenderung memiliki pemikiran idealis yang sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan dan mengikuti sistem nilai pribadi sesuai keinginannya meskipun bertentangan dengan yang dianut oleh orang dewasa.       

Dari latar belakang pertentangan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti permasalahan ini. Secara spesifik penulis mencoba untuk mendeskripsikan motivasi berprestasi, ekpektansi kesuksesan di masa depan, nilai terhadap kesuksesan dalam aspek pendidikan, pekerjaan dan penghasilan di masa depan, serta mengungkap hubungan diantara ketiga variabel tersebut pada remaja miskin yang mengikuti program pusat pengembangan anak Yayasan Compassion di Malang.

 

METODE

Penelitian ini didasari dengan rancangan penelitian lapangan. Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. (Universitas Negeri Malang, 2007:1). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.

Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu ekspektansi kesuksesan dan nilai kesuksesan sebagai variabel bebas serta motivasi berprestasi sebagai variabel terikat.

Penelitian ini akan menggambarkan hubungan variabel nilai kesuksesan (X1) dan motivasi berprestasi (Y), hubungan variabel ekspektansi kesuksesan (X2) dengan motivasi berprestasi (Y), serta hubungan antar variabel nilai kesuksesan (X1), ekspektansi kesuksesan (X2) dengan motivasi berprestasi (Y).

Populasi pada penelitian ini adalah remaja dengan ekonomi miskin yang mengikuti program Pusat Pengembangan Anak (PPA) Yayasan Compassion Indonesia yang tersebar di 23 tempat di kota Malang, dengan rentang usia 15-18 tahun dimana berdasarkan usia mereka sedang menempuh pendidikan di SMP atau SMA/SMK/Kursus.

Sampel diambil menggunakan desain nonprobability sampling dengan jenis teknik purposive sampling. Dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan tujuan (purposive sampling) ini, siapa yang akan menjadi sampel diserahkan pada pertimbangan pengumpul data yang sesuai dengan maksud dan tujuan peneliti Teknik purposive sampling sampel dipilih dari sub populasi yang mempunyai sifat sesuai dengan sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Tidak semua daerah/rumpun populasi diteliti, cukup dua atau tiga daerah kunci atau kelompok kunci yang diambil sampelnya untuk diteliti. Teknik ini juga disebut pula dengan judgment sampling.

Program pengembangan anak Yayasan Compassion Indonesia tersebar di 23 tempat di Kota Malang, maka untuk mengatasi kesulitan mobilitas pengumpulan data dan keefisienan kerja, maka tenik pengambilan sampel bertujuan digunakan dalam penelitian ini. Pertimbangan teknik ini dapat digunakan dengan tetap mengharapkan keterwakilan populasi adalah karena populasi dalam penelitian ini dinilai sebagai populasi yang homogen.

Dengan menggunakan teknik ini, maka dari 23 tempat program pengembangan anak dilaksanakan, dipilih 8 tempat yang mudah dijangkau dan tidak mengalami kesulitan perizinan, 3 tempat digunakan untuk uji coba lapangan dan 5 tempat untuk penelitian sesungguhnya.

Untuk mengukur variabel penelitian ini digunakan instrumen berupa skala yang dikembangkan oleh peneliti dan akan diuji kesahihan atau validitasnya, yaitu: skala ekpektansi kesuksesan untuk mengukur tingkat ekspektansi kesuksesan remaja miskin, skala nilai kesuksesan untuk mengukur tingkat nilai kesuksesan remaja miskin dan skala motivasi berprestasi untuk mengukur motivasi berprestasi remaja miskin.

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dan korelasional. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran lebih jelas mengenai nilai kesuksesan, ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion. Analisis deskriptif yang digunakan diantaranya adalah nilai minimum, nilai maksimum, mean, standar deviasi, klasifikasi norma standar dengan skor-T.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama dan kedua dalam penelitian ini adalah teknik analisis korelasi sederhana, yaitu dengan korelasi product moment, yang diuji pada taraf siginifikansi p £ 0,05. Sedangkan, teknis analisis korelasi regresi berganda digunakan untuk menguji hipotesis ketiga. Keberartian koefisien korelasi pada penelitian ini diuji pada taraf signifikansi p £ 0,05.

 

HASIL PENELITIAN

Remaja miskin yang termasuk kategori memiliki motivasi berprestasi tinggi sebanyak 16 orang (43,24%), sedangkan yang memiliki motivasi berprestasi rendah sebanyak 21 orang (56,76%). Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa lebih banyak remaja miskin yang memiliki motivasi berprestasi rendah, namun tidak terlalu besar jumlahnya.

Remaja miskin yang termasuk kategori memiliki nilai kesuksesan tinggi sebanyak 17 orang (45,95%), sedangkan motivasi rendah sebanyak 20 orang (54,05%). Dari data tersebut bisa dilihat lebih banyak remaja miskin yang memiliki tingkat nilai kesuksesan rendah, namun tidak terlalu besar perbedaan jumlahnya.

Remaja miskin yang termasuk kategori memiliki ekspektansi kesuksesan tinggi sebanyak 19 orang (51,35%), sedangkan yang memiliki ekspektansi kesuksesan rendah sebanyak 18 orang (48,65%). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa remaja miskin yang memiliki tingkat ekspektansi kesuksesan tinggi lebih banyak, meskipun sangat sedikit perbedaannya.

Analisis korelasional dilakukan untuk menguji hipotesis 1, hipotesis 2 dan hipotesis 3. Hasil korelasi nilai kesuksesan dengan motivasi berprestasi dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi.

Tabel 1.2 Rangkuman Hasil Analisis Korelasional

 

Variabel yang dikorelasikan

N

R

p

Motivasi Berprestasi –  Nilai Kesuksesan

37

0.361

0.028

Motivasi Berprestasi –  Ekspektansi Kesuksesan

37

0.523

0.001

Motivasi Berprestasi –  Nilai Kesuksesan dan               Ekspektansi Kesuksesan

37

0.537

0.010

 

a. Pengujian Hipotesis 1

Dari perhitungan nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi dengan menggunakan korelasi product moment pearson diperoleh rx1y = 0,361, p = 0,028, pada taraf signifikansi 5% (p ≤ 0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi. Tanda positif menunjukkan bahwa ada hubungan yang searah antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi dimana semakin tinggi nilai kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi remaja miskin binaan PPA Compassion Malang. Dengan demikian, hipotesis pertama yang berbunyi “Ada hubungan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi”, dapat diterima kebenarannya.

 

b.  Pengujian Hipotesis 2

Dari perhitungan data ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi dengan menggunakan korelasi product moment pearson diperoleh rx2y = 0,523,     p = 0,001, pada taraf signifikansi 5% (p ≤ 0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi. Tanda positif menunjukkan bahwa ada hubungan yang searah antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi dimana semakin tinggi ekspektansi kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion. Hal ini berarti, hipotesis kedua yang berbunyi “Ada hubungan antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi”, dapat diterima kebenarannya.

 

c. Hipotesis 3

Untuk menguji hipotesis tiga digunakan teknik analisis korelasional ganda (multiple corelation). Berdasarkan hasil analisis korelasi ganda nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi sebagai variabel terikat pada tabel 4.7 halaman 71, dimana R = 0,537 dan p £ 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi. Tanda positif menunjukkan bahwa ada hubungan yang searah antara nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi, ini berarti semakin tinggi nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi remaja miskin binaan PPA Compassion Malang. Dengan demikian, hipotesis ketiga yang berbunyi “Ada hubungan antara nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi”, dapat diterima kebenarannya.

 

PEMBAHASAN

Pada penelitian remaja miskin di PPA Compassion ini hasil yang diperoleh menunjukkan remaja miskin yang memiliki motivasi berprestasi tinggi sebanyak 16 orang (43,24%), sedangkan remaja miskin yang memiliki motivasi berprestasi rendah sebanyak 21 orang (56,76%). Dari hasil ini dapat dilihat bahwa lebih banyak remaja miskin yang memiliki motivasi berprestasi rendah, sehingga cukup mendukung perkiraan sebelumnya, yaitu bahwa faktor ekonomi memberikan pengaruh pada motivasi berprestasi remaja miskin.

Fakta bahwa ternyata remaja miskin di PPA Compassion yang memiliki motivasi berprestasi tinggi juga cukup banyak kemungkinan disebabkan karena adanya intervensi pengaruh program pembinaan yang diterima remaja miskin di PPA Compassion. Seperti diketahui anak-anak binaan PPA Compassion sudah dibina sejak usia 3 – 8 tahun, sehingga ada kemungkinan hasil pembinaan program, seperti My Plan For Tommorow, yang memberi pengaruh peningkatan motivasi berprestasi pada remaja miskin.

Selain faktor di atas, masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat motivasi berprestasi remaja miskin diantaranya adalah intelegensi dan wawasan remaja miskin, pendidikan yang ditempuh dan yang paling penting adalah dukungan orang tua. Mahmud (1989:89-90) menulis bahwa hasil penelitian menunjukkan kasus remaja miskin berprestasi tinggi itu berakar pada sikap orang tua yang hangat dan suka memotivasi, yang menaruh minat pada kemajuan belajar anak-anaknya, dan yang bergairah sekali melihat anak-anaknya berhasil baik dalam pelajarannya. Dengan kata lain, hubungan keluarga yang positif beserta dorongan orang tua yang simpatik dapat mengatasi pengaruh negatif dari keadaan sosial ekonomi yang tidak baik.

Remaja miskin yang termasuk kategori memiliki nilai kesuksesan tinggi sebanyak 17 orang (45,95%), sedangkan yang memiliki nilai kesuksesan rendah sebanyak 20 orang (54,05%). Kemungkinan faktor yang menyebabkan remaja miskin tetap memiliki nilai kesuksesan sedang dan tinggi meskipun dibatasi oleh keadaan ekonomi diantaranya adalah karena salah satu ciri-ciri pada tahap remaja adalah bahwa mereka cenderung memiliki sistem nilai dan kaidah yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya yang tidak selalu sama dengan sistem nilai dan kaidah yang dianut oleh orang dewasa. Piaget (dalam Santrock, 1995:10) juga mengemukakan bahwa salah satu ciri pemikiran operasinal formal remaja adalah bahwa tahap perkembangannya, remaja memiliki pemikiran idealis. Bila melihat ciri-ciri remaja ini ada kemungkinan andaikata lingkungannya memiliki nilai-nilai culture of poverty atau adanya streotipe masyarakat yang membatasi kemajuan, remaja miskin tidak selalu mengikuti nilai-nilai yang ada di lingkungan karena cenderung menuruti idealisme pemikiran dan nilai-nilai pribadi. Sedangkan faktor lain yang mengkondisikan remaja miskin memiliki nilai kesuksesan yang tinggi adalah karena intervensi pengaruh program pembinaan yang diterima remaja miskin di PPA Compassion.

Sedangkan, faktor yang menyebabkan rendahnya nilai yang dimiliki remaja miskin terhadap kesuksesan, selain  karena keterbatasan finansial adalah karena adanya steorotipe yang membatasi persepsi kesuksesan atau karena internalisasi nilai-nilai culture of poverty orang tua dan orang-orang di sekitar lingkungan hidup remaja miskin tersebut seperti yang telah duraikan pada latar belakang penelitian.

Remaja miskin yang termasuk kategori memiliki ekspektansi kesuksesan tinggi sebanyak 19 orang (51,35%), sedangkan yang memiliki ekspektansi kesuksesan rendah sebanyak 18 orang (48,65%).

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa remaja miskin yang memiliki tingkat ekspektansi kesuksesan tinggi dan rendah tidak banyak berbeda, meskipun remaja miskin yang memiliki ekspektansi kesuksesan tinggi lebih banyak. Adalah salah satu fenomena yang menarik apabila ditengah keterbatasan ekonomi, remaja miskin tetap memiliki keyakinan akan kemampuan dan peluang mencapai kesuksesan yang tinggi. Jumlah skoring aitem pernyataan yang paling rendah pada skala ekspektansi kesuksesan adalah “keadaan ekonomi membuat saya ragu bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi setelah SMA”, namun pada aitem yang  tidak menyebutkan ‘kondisi ekonomi’, seperti “saya merasa peluang saya untuk menjadi mahasiswa adalah sedikit” jumlah skornya bertambah cukup besar yaitu 18 angka. Dari hal ini dapat diindikasikan bahwa meskipun rata-rata remaja miskin menyadari kondisi ekonomi membatasi keyakinan untuk sukses, namun remaja miskin tetap memiliki ekspektansi yang tinggi untuk sukses.  

Seperti yang juga telah dikemukakan di atas, beberapa faktor yang mungkin menyebabkan remaja miskin memiliki ekspektansi kesuksesan yang tinggi adalah karena pada umumnya remaja memiliki pemikiran idealis tentang diri mereka sendiri. Piaget (dalam Santrock, 1995:10) mengemukakan bahwa salah satu ciri pemikiran operasinal formal remaja adalah bahwa tahap perkembangannya, remaja memiliki pemikiran idealis. Dalam pemikiran yang idealis ini, remaja mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal mereka dan orang lain dengan menggunakan standar-standar. Sementara pada masa anak-anak lebih berpikir tentang apa yang nyata dan apa yang terbatas, selama masa remaja, pemikiran-pemikiran sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan.

Hampir senada dengan Piaget, Hurlock (1980:220) juga menyatakan bahwa pada tahap remaja individu memiliki pemikiran yang tidak relistis. Pemikiran yang tidak realistis ini menyebabkan para remaja cenderung bercita-cita tinggi yang tidak realistis. Oleh karena itu, mereka seringkali tidak memperoleh kepuasan dari prestasi. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri pemikiran idealis dan tidak realistis bisa menyebabkan kecenderungan remaja miskin memiliki ekpektansi kesuksesan yang besar. Namun selain dari pada itu, salah satu kemungkinan faktor lain yang mungkin dapat dikaji lebih lanjut yaitu karena adanya intervensi pengaruh program pembinaan dan bantuan dana serta sarana dan presarana yang diterima remaja miskin di PPA Compassion sehingga meningkatkan ekspektansi diri.

Sebaliknya, faktor yang mungkin menyebabkan remaja miskin memiliki ekspektansi kesuksesan rendah adalah karena kondisi ekonomi yang banyak membatasi pemenuhan sarana dan prasarana untuk maju, adanya streotipe orang tua dan lingkungan sekitar yang tidak mendukung perluasan imajinasi meraih kesuksesan, sehingga membuat remaja miskin tidak memiliki keyakinan dan harapan untuk menggapai kesuksesan.

Hasil perhitungan hubungan nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai remaja miskin terhadap kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi remaja miskin, sebaliknya semakin rendah nilai remaja miskin terhadap kesuksesan maka motivasi berprestasi remaja miskin juga semakin rendah.

Hasil penelitian hubungan ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi pada remaja miskin di PPA Compassion menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi ekspektansi remaja miskin terhadap kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi remaja miskin, sebaliknya semakin rendah ekspektansi remaja miskin terhadap kesuksesan maka motivasi berprestasi remaja miskin juga semakin rendah.

Hasil penelitian ini juga mendukung bahwa keyakinan akan kemampuan atau peluang yang dimilikinya mengenai aspek-aspek kesuksesan di masa depan seperti pendidikan yang tinggi, pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang besar memberikan kontribusi positif bagi remaja miskin untuk menunjukkan perilaku berprestasi. Semakin tinggi ekspekansi remaja miskin terhadap kesuksesan maka semakin tinggi pula motivasi berprestasinya, dan begitu juga sebaliknya.

Beberapa penelitian yang dilakukan Schneider, mendukung hasil penelitian yang menunjukkan ada hubungan antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion. Schneider (2001:21) melakukan penelitian meningkatkan motivasi dan prestasi dengan latihan kelancaran berbahasa inggris. Salah satu hasil penelitiannya menunjukan bahwa ekspektansi berhubungan positif dengan motivasi dan prestasi pada siswa lanjutan.

Hasil pengujian hubungan nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion Malang pada penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengupayakan peningkatan nilai dan ekspektansi remaja miskin terhadap aspek-aspek kesuksesan dimasa depan, seperti kesuksesan dalam meraih pendidikan yang tinggi, memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang besar, maka diprediksi dapat memberikan peningkatan motivasi berprestasi remaja miskin tersebut.

Hasil pengujian hubungan nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi remaja miskin di PPA Compassion Malang pada penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan dengan motivasi berprestasi. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengupayakan peningkatan nilai dan ekspektansi remaja miskin terhadap aspek-aspek kesuksesan dimasa depan, seperti kesuksesan dalam meraih pendidikan yang tinggi, memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang besar, maka diprediksi dapat memberikan peningkatan motivasi berprestasi remaja miskin tersebut.

Beberapa faktor lain yang dianggap memiliki hubungan dengan motivasi berprestasi dilakukan oleh beberapa peneliti. Hasil penelitian yang dilakukan Ghani (1999) menunjukkan ada hubungan signifikan secara parsial antara motivasi berprestasi dan intelegensi siswa, yang berarti semakin tinggi intelegensi siswa, berarti akan semakin tinggi pula motivasi berprestasinya. Mahmud (1989:89-90) menulis bahwa “hasil penelitian menunjukkan kasus remaja miskin berprestasi tinggi itu berakar pada sikap orang tua yang hangat dan suka memotivasi, yang menaruh minat pada kemajuan belajar anak-anaknya, dan yang bergairah sekali melihat anak-anaknya berhasil baik dalam pelajarannya. Dengan kata lain, hubungan keluarga yang positif beserta dorongan orang tua yang simpatik dapat mengatasi pengaruh negatif dari keadaan sosial ekonomi yang tidak baik”. Dari hal di atas, diketahui faktor lain yang mempengaruhi motivasi berprestasi diantaranya adalah intelegensi, sikap atau pola asuh orang tua, dan sebagainya.

Dengan melihat data di atas juga dapat dilihat bahwa nilai ekspektansi kesuksesan lebih berhubungan dari nilai kesuksesan, hal ini menunjukkan bahwa ekspektansi kesuksesan secara signifikan memberikan sumbangan relatif lebih besar dibandingkan nilai kesuksesan terhadap motivasi berprestasi. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa andaikata nilai yang dimiliki remaja miskin tidak begitu baik oleh karena lingkungan ataupun pengalaman hidup adalah penting menanamkan keyakinan pada remaja miskin, bahwa mereka bisa mencapai kesuksesan sehingga termotivasi mengusahakan kesuksesan tersebut.

Seperti dikatakan sebelumnya, tingkat ekspektansi dan nilai seseorang terhadap sesuatu dapat berbeda. Terkadang seseorang menilai sesuatu sebagai hal yang baik dan berguna namun tidak memiliki keyakinan akan kemungkinan dapat memperoleh/melakukannya. Sebaliknya, terkadang orang menganggap bahwa kemungkinannya untuk berhasil memperoleh/melakukan sangat besar namun tidak mengusahakan hal tersebut karena tidak menganggap itu penting sehingga tidak menginginkannya. Sebagai contoh seorang anak yang hidup dengan ekonomi miskin menilai penting sebuah tujuan, seperti hendak masuk ke perguruan tinggi tapi tidak berfikir memiliki kesempatan atau sebaliknya jika anak lain dengan ekonomi berkecukupan berfikir dapat dengan mudah masukan perguruan tinggi, tapi kita tidak menginginkannya karena malas belajar.

Namun, seperti telah diuraikan di atas, pada penelitian ini nilai dan ekspektansi masing-masing memberikan sumbangan korelasi pada motivasi berprestasi tanpa harus ada bersamaan, seperti yang ditunjukan dengan diterimanya hipotesis pertama dan hipotesis kedua. Sehingga, ada kemungkinan bahwa walaupun, tingkat nilai dan ekspektansi seseorang berbeda atau bahkan salah satu variabel tidak, tetap ada kemungkinan memberikan pengaruh pada motivasi berprestasi.

 

KESIMPULAN DAN SARARAN

Dari bab-bab sebelumnya maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Sebagian besar tingkat motivasi berprestasi remaja miskin berada pada kategori rendah

Sebagian besar tingkat nilai kesuksesan remaja miskin berada pada kategori rendah, namun tidak terlalu banyak perbedaan jumlahnya dengan yang kategori tinggi

Sebagian besar tingkat ekpektansi kesuksesan remaja miskin berada pada ketegori tinggi, namun sangat sedikit perbedaan jumlahnya dengan yang kategori rendah

Ada hubungan yang signifikan antara nilai kesuksesan dan motivasi berprestasi

Ada hubungan antara ekspektansi kesuksesan dan motivasi berprestasi

Ada hubungan antara nilai kesuksesan dan nilai kesuksesan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi

Tingkat aspek kesuksesan pendidikan yang tinggi pada variabel nilai sedikit lebih tinggi dari pada aspek kesuksesan pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang besar, sedangkan pada variabel ekspektansi aspek kesuksesan terhadap pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang besar, dapat dikatakan seimbang besarnya.

 

Dengan memperhatikan hasil-hasil penemuan dalam penelitian ini serta pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:

 

1.  Bagi Remaja Miskin

Karena motivasi berprestasi berhubungan dengan nilai dan ekspektansi terhadap kesuksesan, maka remaja miskin disarankan mulai banyak mengimajinasikan keinginan di masa depan, banyak membaca/memperhatikan pengalaman orang-orang sukses sehingga menemukan inspirasi, mulai menyusun rencana masa depan, memupuk keyakinan diri dengan berfikiran positif, mendiskusikan dengan orang tua atau pihak yang dapat membantu menemukan solusi guna mengatasi kesulitan untuk sukses dan lainnya.

Bagi remaja miskin di PPA Compassion agar menyadari pentingnya mengikuti setiap program pembinaan psikologis, seperti My Plan for Tommorow yang merupakan salah satu bentuk aplikasi hubungan motivasi berprestasi, nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan.

 

Bagi Yayasan Compassion dan Tutor/Pengajar      

Melihat gambaran masih banyak remaja miskin yang kurang memiliki motivasi berprestasi, perlu terus diupayakan penggalakan atau pengkajian keefektifan program peningkatan motivasi berprestasi yang sudah diterapkan selama ini.

Program My Plan For Tommorow yang baru direvisi dan yang akan diaplikasikan secara serentak di PPA Compassion Indonesia terlihat dapat menjadi aplikasi penting dari hasil penemuan penelitian ini, untuk itu disarankan agar tutor/pendamping anak memahami pentingnya program ini dan dapat menjalankannya semaksimal mungkin, juga bagi Yayasan diharapkan dapat mengawasi dan terus meningkatkan kualitas pelaksanaan dari program ini.

Selain langsung kepada anak/remaja miskin, pihak Yayasan juga dapat memanfaatkan acara pertemuan dengan orang tua untuk terus mengupayakan pembelajaran bagi orang tua sehingga memahami cara bersikap atau menerapkan pola asuh dan pola didik yang tepat kepada anak, seperti sering membicarakan contoh-contoh kesuksesan kepada anak, mendiskusikan harapan-harapan anak di masa depan dan menghindari diri untuk mematahkan keyakinan diri anak meskipun terkadang terlihat mustahil.

 

3. Bagi Orang Tua

Hubungan keluarga yang positif beserta dorongan orang tua yang simpatik dapat mengatasi pengaruh negatif dari keadaan sosial ekonomi yang tidak baik, maka adalah penting bagi orang tua remaja miskin untuk menunjukkan sikap yang hangat dan suka memotivasi, menaruh minat pada kemajuan anak-anaknya, dan menunjukkan gairah melihat anak-anaknya berhasil melakukan sesuatu sehingga walaupun kondisi kemiskinan membelenggu namun motivasi berprestasi anak tetap bisa tinggi.

Seperti yang telah diuraikan di atas, beberapa contoh saran penanaman nilai kesuksesan, maupun ekspektansi anak terhadap kesuksesan yang dapat dilakukan orang tua diantaranya adalah agar orang tua sering membicarakan contoh-contoh kesuksesan kepada anak, mendiskusikan harapan-harapan anak di masa depan dan menghindari diri untuk mematahkan keyakinan diri anak meskipun terkadang terlihat mustahil sebaliknya mendorong semangat anak atau bahkan memberi solusi agar anak berhasil melakukan apa yang dicita-citakannya.

4.   Bagi Pemerintah

Aspek psikologis negatif seperti culture of poverty atau mental miskin bangsa Indonesia diakui beberapa kalangan terdapat dalam masyarakat Indonesia, untuk itu adalah pentingnya menerapkan pendekatan psikologi untuk mengentaskan kemiskinan sebagai salah satu solusi yang perlu ditangkap oleh pemerintah, sehingga pemerintah/pemerhati masalah lingkungan tidak hanya memikirkan pembangunan aspek fisik seperti lapangan pekerjaan, gedung sekolah, area transmigrasi sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan namun juga memikirkan program pengentasan kemiskinan melalui pembinaan psikologis. Salah satu contoh sederhana yang dapat dilakuakan pemerintah adalah dengan menggalakan iklan layanan masyarakat yang memberi pesan agar memacu keinginan untuk sukses, menekankan pentingnya keyakinan diri dan lainnya.

 

5.  Bagi Penelitian Selanjutnya

a.         Penelitian ini hanya memberikan gambaran keadaan dan hubungan tentang motivasi berprestasi, nilai kesuksesan dan ekspektansi kesuksesan, dan belum menguji aplikasi dari penemuan ini. Maka dari itu, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian eksperimen yang akan menguji kebenaran hasil penelitian ini dan menemukan tretment guna meningkatkan motivasi berprestasi sehingga dapat diaplikasikan dalam program-program lembaga-lembaga yang menangani anak-anak miskin.

Bagi peneliti selanjutnya juga disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan subyek peneliti yang benar-benar murni miskin tanpa menerima bantuan lembaga/yayasan untuk melihat apakah ada perbedaan remaja miskin yang berada di Pusat Pengembangan Anak Compassion dengan remaja miskin yang tidak menerima bantuan dari lembaga/yayasan manapun.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Astuti, Runik Sri. Sep - Okt 2005. Orang Miskin Versi Pemerintah. Republika dalam Dokumentasi Kliping Situasi dan arah Kependudukan Indonesia, Bidang Penelitian dan Informasi Kependudukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, XVI: 15-16.

 

Ate, Johanis. 2001. Perilaku Menyimpang di Kalangan Siswa Remaja Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Dikaji dari Sistem Sistem Nilai Yang Ditetapkan. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

 

Azwar, Saifuddin. 2005a. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

 

Azwar, Saifuddin. 2005b. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

 

Buck, Ross. 1988. Human Motivation and Emotion. Canada: John Willey & Sons, Inc.

 

Chaplin, J. P. 2004. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

 

Compassion International. 2000. About Compassion, 2002-2008, (Online), (http://www.compassion.com, diakses 14 November 2006)

 

Elfiky, Ibrahim. 2003. Dream Revolution, 10 Kunci sukses mengubah Khayalan Menjadi Kenyataan. Jakarta: Mizan Publika.

 

Gable, K. Robert & Wolf, M. B. 1993. Instrument Development in The Affective Domain, Meansuring Attitudes and Values in Corporate and School Setting. Massachusetts: Kluwer Academic Publisher.

 

Gani, Hamsu Abdul. 1999. Motivasi Berprestasi Siswa SLTA di Propinsi Sulawesi Selatan. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang.

 

Haba, John. Nov - Des 2005. Kemiskinan, Status Sosial yang Didambakan?. Suara Pembaruan dalam Dokumentasi Kliping Situasi dan arah Kependudukan Indonesia, Bidang Penelitian dan Informasi Kependudukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, XVI:14-15.

 

Hanurawan, Fattah. 1993. Sikap dan Norma Subyektif Remaja Berkenaan Dengan Niatnya Meniru Penampilan Fisik Pemusik Rock (Studi di Kota Malang). Tesis tidak diterbitkan. Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

 

Hasbullah, Jousari. Sep – Okt 2006. Reorientasi Pengentasan Kemiskinan. Republika dalam Dokumentasi Kliping Situasi dan arah Kependudukan Indonesia, Bidang Penelitian dan Informasi Kependudukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, XVII: 16-18

 

Houston, John P. 1985. Motivation. New York: MacMillan Publishing Co., Inc.

 

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

 

Ismail, Hanif. 2006. Hubungan antara Persepsi terhadap Dunia Usaha, Kecerdasan Emosional, Sikap terhadap Profesi Akuntan dan Motivasi Berprestasi Mahasiswa Akutansi. Jurnal  Pendidikan dan Kebudayaan, 12(061): 448-472.

 

Jung, John. 1978. Understanding Human Motivation, A Cognitive Approach. New York: MacMillan Publishing Co., Inc.

 

Kompas 13 Maret, 2007. Warga Negara Miskin Pesimis Peroleh Pendidilan, hlm 1&15.

Kosim, Ellyanti. 1997. Hubungan Antara Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua degan Prestasi Belajar Mahasiswa. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FPIPS IKIP Malang.

 

Kuntoro, Sodik A. 1995. Motivasi Masyarakat Desa Untuk Maju: Kasus Desa Kepuharjo. Jurnal Kependidikan Lembaga Penelitian IKI Yogyakarta, XXV(1): 42-45.

 

Lambertus. 1995. Hubungan Motivasi Berprestasi dan Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Negeri di Kota Administrasi Kendari. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang.

 

Mahmud, Dimyati. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

 

Mangantes, Lenny, Meisse. 2005. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua,Kkelas Sosial dan Kemampuan Umum dengan Self-esteem Siswa SMA Negeri di Kota Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

 

Marzuki. 2005. Metodologi Riset Panduan Penelitian Bidang Bisnis dan Sosial. Yogyakarta: Ekonisia Kampus FE UII.

 

McClelland, C. David. 1953. The Achievement Motive. New York: Appleton Century Crolts, Inc.

 

Oktriyuana, Madya. 2005. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dan Masalah-masalah yang Dihadapi dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas III SMPN 4 Tulung Agung. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

 

Petri, Herbert L. 1981. Motivation: Theory and Research. California: Wadsworth, Inc.

 

Prasetyo, Eko. 2006. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Yogyakarta: Resist Book.

 

Rahayu, Bekti. 2005. Hubungan Antara Latar Belakang Sosial Ekonomi dan Perhatian Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMPN 2 Tulung Agung. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

 

 

Rahayu, Ratna Maulati. 1999. Hubungan Motivasi Berprestasi dan Orientasi Acievement Goals dengan Perilaku Menyontek Pada Siswa SMU (Penelitian dilakukan pada SMUN 68 Jakarta Pusat). Skripsi tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Roese, N. J & Sherman, J. W. 2007. Expectancys, dalam A. W Kruglanski & E. T Higgins (Eds), Social Psychology: A Handbook of Basic Principles (Vol.2), (Online), (http://www.psych.uiuc.edu/~roese/expectancy.pdf, diakses 6 November 2007)

 

Rokeach, Milton. 1980. Beliefs, Attitudes and Values: A Theory of Organization and Change. California: Jossey-Bass, Inc. Publishers.

 

Santrock, John W. 1995. Live Span Development. Jakarta: Erlangga.

 

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Scarpitti, F. R. & Andersen, M. L. 1992. Social Problems. New York: Harper Collins Publisher.

 

Schwartz, David J. 1996. Berfikir dan Berjiwa Besar. Jakarta: Binarupa Aksara.

 

Soehartono, Irawan. 2004. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Supriani, Aprina. 1990. Hubungan Antara Nilai Achievement dan Minat Membaca Buku Teks dengan Tingkat Membaca Buku Teks. Skripsi tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

 

Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

 

Uno, B. Hamzah. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis Bidang Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

Vroom, Victor. 1964. Work and Motivation. New York: Wiley