| Takut Anjing Gila? |
|
Matahari terbit dari timur, terbenam di barat Malam berganti siang, siang berganti malam
Keduanya berjalan begitu saja setiap hari Demikianlah Allah mengajar makhluk-makhlukNya Sederhana dan sekilas tanpa improvisasi Yudriku Adz-dzakiy bi-nadhrin wahidin Manusia cerdas bisa menangkap hikmah dengan satu contoh
Kenyataan di atas sangat bertolak belakang dengan fenomena pendidikan yang ada di sekitar kita. Berbagai kreasi dan inovasi dirangsang untuk terus bermunculan guna menyampaikan tujuan kurikulum yang berubah tiap zaman, tuntutan zaman manusia bilang. Improvisasi guru, pendidik, pengajar, tentor, bahkan ustadz atau kyai diharapkan dapat memecah kebuntuan buta ilmu pengetahuan.
Mungkin ini semua sebagai akibat dari pendeknya usia manusia yang dirasa semakin nyata menyadi penyakit yang laten. Kenyataannya manusia sekarang semakin sadar akan hak dan guna waktu terhadap insan yang senantiasa nisyan. Menyadari bahaya nisyan atau penyakit lupa mendorong manusia mengingatkan dirinya dengan mengikatkan di lehernya sebuah satuan waktu, menggantungkan di dinding-dinding rumahnya jam yang berdentang menunjuk waktu jua. Mau tak mau dipaksa berhadapan dengan wal ashr. Dengan segala ketakutan terhadap kerugian, manusia menemukan bentangan sejarah emas yang mampu membuatnya berkilau di mata makhluk yang lain.
Sesungguhnya, yang mendasari saya menuliskan goresan ini adalah; selama ini masih jelas di hati saya cerita seorang yang amat sangat bodoh mencari ilmu, bertahun-tahun dia tempuh jalan mengejar ilmu. Dengan ketelatenan yang luar biasa dia berupaya jarinya dapat merengkuh ilmu… tapi kelihatannya ilmu berlarian juga bersamanya, sehingga jari-jarinya tiada sampai untuk menggapainya.
Tapi akhirnya ilmu itu lelah juga berlari, terlihat dari kening Anak Batu “Asqalaniy” yang tertimpa tetesan-tetesan lembut dari ilmu laksana menembus batu. Tetesan yang mampu melubangi kebodohannya dan menerbitkan mata air kealiman pada dirinya.
Bagaimana dengan kehidupan pendidikan kita sekarang, kita melihat kan gaya mengajar Allah dengan bentangan alam yang terpampang di cakrawala?. Sebatas mata memandang penuh… dengan media pembelajaran yang telah diciptakan Allah buat kita semua. Bagaimanakah kita menyikapinya?
Sungguh…. Wahai Ayahanda Guru… Ibunda Guru…. Wahai Rama Kyai …. Wahai Menteri Pendidikan… Wahai Kurikulum…
Jangan jadikan wal ashri sebuah ketakutan pada ‘anjing gila’, jadikan ‘waktu’ sebagai sumber ketakutan pada Sang Pencipta anjing gila.. jangan jadikan kami takut miskin, jadikanlah kami lebih takut kepada Sang Pembuat sedih dan bahagia hanya dipisahkan rambut dibelah tujuh.
|
