| Beberapa Pertanyaan Tentang Statistika |
|
1. Statistika itu apa? Sebenarnya ini adalah pertanyaan keempat, tetapi saya jadikan pertanyaan pertama karena berkaitan dengan pemahaman mendasar tentang materi pertanyaan lain. Apa itu statistika? Pertanyaan ini pernah diajukan juga oleh seorang suami dari teman kerja saya juga. Statistika adalah cabang ilmu matematika yang berurusan dengan cara-cara/teknik-teknik pengorganisasian (sering berarti mereduksi) data dalam suatu bentuk yang lebih sederhana sehingga akan mudah untuk ‘dibaca’. Data yang kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sangat banyak, sehingga dapat menimbulkan kebingungan jika tidak diorganisasikan. Misalnya sebagai mahasiswa anda memperoleh nilai untuk mata kuliah-mata kuliah yang telah diambil. Dalam satu semester anda bisa memperoleh 4-5 nilai. Dalam 2 tahun bisa diperoleh 16-20 nilai. Nilai-nilai itu tentu akan bervariasi, ada yang B, ada yang C bahkan mungkin D atau E. Jika anda ditanya bagaimana prestasi anda di bangku kuliah? Bagaimana menjawabnya? Apakah seperti ini: “Ya ada yang B ada yang C ada yang D, ada juga yang E.” ? Atau mungkin disebutkan semua nilainya? Tentu saja jika orang yang bertanya pada anda punya waktu cukup banyak untuk mendengar daftar nilai anda. Tapi ada cara yang lebih sederhana untuk ‘menceritakan’ prestasi anda. Dengan mencari rerata nilai anda dengan memperhitungkan jumlah sks yang telah diambil (yang kemudian disebut dengan IPK). Atau anda bisa juga menyebutkan nilai terbaik yang didapatkan dari semua mata kuliah yang telah diambil (nilai maksimal) atau nilai terburuk (nilai minimal). Dan banyak cara lainnya. Cara-cara untuk menyajikan data dengan sederhana inilah yang kemudian disebut dengan statistik. Well, semoga bisa menjawab pertanyaan di atas dengan memuaskan. 2. Kenapa kita butuh statistika? Pertanyaan ini agak terjawab
dengan penjelasan yang saya berikan di no 1. Mengapa kita butuh statistika?
Karena di sekitar kita ada begitu banyak data kuantitatif (dalam bentuk angka)
dan tentu saja kita tidak dapat mengelakkan diri dari data-data tersebut. Dan
seringkali kita perlu menggunakan data tersebut atau menyajikannya baik pada
diri sendiri maupun orang lain. Tidak jarang juga kita mengambil keputusan
berdasarkan data tersebut. Misalnya ketika kita akan memilih
sebuah kelas yang diajar dosen A, kita merasa perlu tahu ‘medan perang’ dengan
paling tidak bertanya-tanya pada orang yang pernah diajar dosen A. Atau kita
bisa melihat track record dosen A tersebut dalam memberi nilai, apakah dia
termasuk dosen pelit atau murah hati. Caranya? Tentu saja dengan melihat daftar
nilai yang dikeluarkan dosen tersebut, dan membandingkan prosentase (baik
secara intuitif maupun empiris) mahasiswa yang memperoleh A, B, C,D,dan E.
Perbandingan ini akan kita jadikan dasar keputusan untuk mengambil kelas
tersebut atau tidak. Bagi mahasiswa yang mencari tantangan (atau cari
gara-gara?) tentu saja akan mengambil kelas yang prosentase A dan B jauh lebih
kecil dari C. Misalnya lagi, dalam sebuah
polling mengenai isu reorganisasi lembaga kemahasiswaan, kita ingin tahu
bagaimana sikap mahasiswa terhadap isu tersebut. Apakah secara umum mahasiswa
setuju atau tidak setuju dengan adanya reorganisasi. Karena keterbatasan tenaga
dan dana, maka yang ditanyai sikapnya hanyalah sampel dari mahasiswa. Setelah
kita hitung proporsi yang setuju dan tidak, kita perlu mengetahui apakah dalam
populasi juga berlaku proporsi yang ada dalam sampel. Maka kita perlu meminta
bantuan statistika untuk menyelesaikannya. Wah… ini agak sulit jawabnya tapi
sekaligus mudah. Banyak sekali temuan ilmiah (khususnya dalam bidang psikologi
yang saya tahu) didasarkan pada hasil analisis statistik, dari analisis yang
sederhana sampai yang rumit. Kita mengenal tipe-tipe kepribadian yang muncul
akhir-akhir ini (seperti Big 5 Personality Factor) karena adanya Teknik
Analisis Faktor. Kita bisa mengembangkan tes kecerdasan dan menentukan tingkat
kecerdasan dalam bentuk skor IQ karena adanya penggunaan mean dan standard
deviasi, juga analisis kesalahan pengukuran. Efektivitas terapi (baik
psikologis maupun medis) seringkali juga dibuktikan dengan memanfaatkan
analisis statistik.Selain itu juga adanya tingkat resiko penggunaan obat
sebesar sekian persen, karena dibalik itu ada analisis statistik yang
mengestimasi besarnya kemungkinan terjadinya resiko. Hal ini berlaku juga
dengan crime rate, tingkat kematian ibu dan bayi, tingkat kecelakaan, resiko
investasi, dsb. Belum termasuk di dalamnya penelitian-penelitian yang berusaha mencari faktor yang dominan dari sekian banyak faktor yang ikut terlibat dalam mencetuskan wabah demam berdarah, yang memampukan kita untuk melakukan pencegahan wabah. Atau faktor yang ikut terlibat dalam terjadinya kenakalan remaja, sehingga kita bisa tahu apa yang perlu kita lakukan agar kaum muda kita tidak terlibat narkoba, dan kenakalan lain. Atau penelitian mengenai bahan-bahan tahan gempa dengan tingkat kelenturannya sendiri-sendiri. 4. Kenapa orang harus belajar statistika? Tidak ada yang mengharuskan anda
untuk belajar statistika. Anda bisa mengabaikannya. Tapi tentu saja statistika
menjadi syarat agar bisa menyelesaikan kuliah di suatu program studi tertentu
(misal psikologi). Mengapa menjadi syarat di suatu
program studi? Karena ada anggapan bahwa perkembangan ilmu di suatu program
studi tersebut tidak dapat dilepaskan dari statistika. Temuan-temuan ilmiah
yang diterapkan dalam ilmu tersebut banyak mendapat bantuan dari statistika.
Pengujian efektivitas terapi, atau pengujian efektivitas pengajaran, dsb
seringkali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknik statistik. Oleh karena itu, penting bagi
orang-orang yang mempelajari ilmu tersebut, untuk mengetahui cara-cara yang
telah dipakai untuk memperoleh ilmu yang mereka pelajari saat ini. Termasuk di
dalamnya analisis statistik. Harapan di balik itu tentu saja,
agar kita bisa mengembangkan pengetahuan kita sendiri dengan baik, dan tidak
terus menerus menjadi ‘budak pengetahuan’ atau ‘pelanggan tetap pengetahuan’
dari orang lain (atau bangsa lain). Kita harus bisa menjadi tuan atas
pengetahuan ilmiah kita sendiri. Bisa kritis dan tidak terus menerus dibodohi
oleh orang lain hanya karena kita benci angka.Ada orang bilang wah tes ini
valid… ya ikut memakai, yang lain bilang terapi ini bagus… ya ikut-ikutan, dst.
Bagi saya pribadi, mempelajari
statistika juga membantu dalam mendisiplinkan pola pikir. Baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam kehidupan akademik. Misalnya berhati-hati dalam
mengambil kesimpulan, khususnya tanpa data yang jelas. Atau tidak memegang asumsi
secara berlebihan dengan pertimbangan tidak semua orang memegang asumsi yang
sama, dsb. Ya, tidak ada yang mengharuskan
anda belajar statistika, tapi jika kita bisa memperoleh manfaat darinya mengapa
tidak mencoba? Why don’t you give it a try? 5. Statistika sama Fisika enakan mana? Saya tentu saja tidak bisa
menjawab pertanyaan ini untuk anda karena masing-masing dari kita punya
ketertarikan dan minat sendiri tentang dua bidang ilmu ini. Bagi saya keduanya
jelas bidang ilmu yang sangat menarik dan mungkin saling terkait karena
sama-sama menggunakan matematika sebagai ‘otak’nya. Teman saya pernah bilang kalo
sebuah bangsa ingin maju, maka bangsa itu harus menyukai paling tidak 3 hal :
membaca, menulis, dan berhitung. (thanks …Seno) Pesan saya cuma satu, jangan berhenti belajar hanya karena kamu tidak menyukainya. Kadang-kadang pelajaran paling berharga dalam hidup diperoleh dari pengalaman paling menyebalkan. Sumber: http://psikologistatistik.blogspot.com |
