|
Beberapa waktu yang lalu saya
sempat berkunjung ke websitenya Bapak Rohedi, salah satu peneliti brilian Indonesia.
Saya sangat tertarik dengan ulasan beliau tentang penemuannya yang femomenal.
Saya katakana fenomenal lebih karena ketidaktahuan saya tentang bidang
kepakaran Bapak Rohedi.
Ingin saya munculkan di sini
adalah bukannya tentang dari formula analitik sendiri (Silahkan mampir
ke websitenya Bapak Rohedi di http://rohedi.blogspot.com), melainkan cita-cita
besar yang beliau angankan:
“Begitu nomor PATEN itu keluar, copy
right dari teknik smart pemecah persamaan diferensial nonlinear tersebut akan
saya lego dengan harga yang sangat fantantis, yaitu Rp. 100 T. Semoga jerih
payah rumus sakti yang saya niatkan untuk mengentaskan kaum Duafa (Fakir miskin
dan orang terlantar) serta membahagiakan Anak Yatim Piatu itu segera terwujud”
Berikut cuplikan penututan Bapak Rohedi:
Remainder hitungan rohedi’s
formula tetap konsisten dengan teori matematika yakni mendekati nol, sedangkan
remainder hitungan Matlab sangat payah karena nilainya mendekati takberhingga.
Walaupun demikian saya tidak terburu-buru mengklaim formula analitik yang saya
miliki tersebut sebagai penemuan, karena disamping paper tentang formula
digdaya itu belum saya publikasikan ke manca negara, juga karena saya masih
ingin berbagi tip dengan sesama anak bangsa, siapa tahu ada diantara visitor
yang brillian mendapatkannya, sehingga saya turut berbangga mengantarkan sang
penemu meraih field medal yaitu gelar prestisius di bidang matamatika. Tak ayal
lagi kelak Indonesia
akan menjadi sentra New Science sebagaimana saya ilustrasikan pada
rohedi.blogspot. Mengapa? karena saya akan sependapat dengan semua visitor,
bahwa karya Profesor PTN dan PTS produk DIKTI tentu jauh lebih hebat dari karya
ROHEDI yang hanya tamatan S2 dalam negeri.
Sebagaimana inspirasi untuk
mendapatkan rohedi’s reversion sebagai teknik reversi baru dalam menyelesaikan
persamaan diferensial biasa nonlinear dalam bentuk Maclaurin series (silahkan
baca kembali artikel How to upgrade the running time of computer), untuk
mendapatkan formula analitik polinomial orde sembarang dimaksud, sayapun
terinspirasi akan ketajaman hati nurani para Pendiri Bangsa dalam menetapkan
kelahiran RI (Republik Indonesia)
tercinta ini pada 17–8–1945.
Pada penyelesaian persamaan diferensial arctanget, ternyata angka-angka
tanggal, bulan, dan tahun kelahiran RI tersebut termaktub dalam koefisien deret
tangent function pada suku ke 8 (delapan) yakni Perlu visitor ketahui bahwa
tangent function dan arctangent merupakan fungsi trigonometri yang perannya
amat vital dalam pemecahan problem integral dan persamaan diferensial secara
analitik sebagaimana saya jelaskan dalam artikel surat ke KAMINDO (Komisi Ahli
Matematika Analisis Indonesia). Semoga pernyataan saya tidak salah kalau Angka Kelahiran
RI tersebut merupakan representasi visi
akademis para Pendiri Bangsa yang harus diwujudkan oleh siapapun yang memimpin
bangsa ini melalui misi-misi pencerdasan bangsa yang harus ditargetkan selama
masa kepemimpinannya. Namun sayang, baru 45 tahun pasca kemerdekaan bangsa
kita, sistem pendidikan di Indonesia berjalan tanpa arah yang jelas, itupun
dengan punguatan biaya pendidikan yang sangat mencekik. Semoga pula surat
tersebut sampai ke KAMINDO setelah saya berpulang ke rahmatullah, demikian pula
jumlah suku deret tangent function hasil hitung tangan saya dalam isi surat
tersebut tidak tercium oleh pengelola musium rekor Indonesia (MURI) sebagai rekor
jumlah suku terbanyak yang dapat dicapai anak bangsa Indonesia
(bahkan mungkin di dunia). Mengapa? karena mempertanggungjawabkan langkah
perumusannya di depan mereka, berarti membuka rahasia teknik reversi baru
tersebut, yang tentu saja akan menghilangkan kesempatan saya untuk mematenkan
teknik smart tersebut di lembaga PATEN USA sebagai lembaga Paten terpercaya
hingga saat ini.
|