| Apa itu Korelasi? |
|
Korelasi atau Regresi? Pertanyaan seperti ini sering muncul
ketika peneliti akan melakukan analisis statistik untuk melihat hubungan antar
variabel. Jawaban yang sering saya dengar adalah: "Kalau korelasi itu
untuk dua variabel, satu variabel independen dan satu variabel
dependen.Sementara kalo regresi itu untuk lebih dari dua variabel, lebih dari
satu variabel independen dan satu variabel dependen."
Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti dengan
kenaikan kuantitas dari variabel lain, maka dapat kita katakan kedua variabel
ini memiliki korelasi yang positif. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel
sama besar atau mendekati besarnya kenaikan kuantitas dari suatu variabel lain
dalam satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati 1. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti dengan
penurunan kuantitas dari variabel lain, maka dapat kita katakan kedua variabel
ini memiliki korelasi yang negatif. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel
sama besar atau mendekati besarnya penurunan kuantitas dari variabel lain dalam
satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati -1. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti oleh
kenaikan dan penurunan kuantitas secara random dari variabel lain atau jika
kenaikan suatu variabel tidak diikuti oleh kenaikan atau penurunan kuantitas
variabel lain (nilai dari variabel lain stabil), maka dapat dikatakan kedua
variabel itu tidak berkorelasi atau memiliki korelasi yang mendekati nol. Dari pemikiran ini kemudian lahirlah Rumus Korelasi Product
Momen Pearson seperti yang sering kita lihat di buku. Jika setiap subjek yang memiliki nilai X lebih rendah dari
meannya, memiliki nilai Y yang juga lebih rendah dari meannya, nilai r akan
menjadi positif. Begitu juga jika setiap subjek yang memiliki nilai X lebih
tinggi dari meannya, memiliki nilai Y yang lebih tinggi dari meannya. Jika setiap subjek yang memiliki nilai X yang lebih tinggi
dari meannya, memiliki nilai Y yang lebih rendah dari meannya maka nilai r akan
menjadi negatif. Begitu juga jika tiap subjek yang memiliki nilai X lebih
rendah dari meannya memiliki nilai Y yang lebih tinggi dari meannya. Jika tiap nilai X yang lebih tinggi dari meannya terkadang
diikuti oleh nilai Y yang lebih tinggi terkadang lebih rendah dari meannya maka
nilai r akan cenderung mendekati 0 (nol). Rumus Kedua Nah dari rumus kedua ini dapat kita simpulkan bahwa nilai
korelasi sebenarnya nilai kovarian dari dua variabel x dan y yang distandardkan
dengan menggunakan standard deviasi x dan standard deviasi y sebagai
denominatornya. Mengapa nilai kovarian perlu distandardkan? (ada yang bertanya
apa itu kovarian? lihat di posting berikutnya ya...). Nilai kovarian sangat
dipengaruhi oleh satuan skala yang digunakan oleh kedua variabel. Misalnya kita
menghitung kovarian dari tinggi badan dengan panjang rambut , pengen tahu
apakah tinggi badan berkorelasi dengan panjang rambut (iseng banget yak...).
Kita menghitung tinggi badan dan panjang rambut dalam satuan meter. Kemudian
kita hitung kovariannya. Setelah itu kita menggunakan data yang sama, hanya
mengubah satuannya menjadi centimeter, lalu menghitung kovariannya. Nah
kovarian dari hasil perhitungan kedua akan terlihat lebih besar daripada yang
pertama.
Rumus ketiga ini agak sulit ceritanya. Kalo nggak hati-hati
bisa dimarah-marah sama Pedhazur (Pedhazur, 1997) soalnya. Begini: Zx dan Zy itu berbicara mengenai nilai X dan Y dalam satuan
SD. Jika nilai X ada di bawah mean dari X maka nilai Zx akan
negatif, jika nilai X ada di atas meannya maka nilai Zx akan positif. Begitu
juga dengan Y. Seperti pada rumus pertama, jika Zx dan Zy sepakat (keduanya
positif atau negatif) maka nilai r akan positif. Jika Zx dan Zy berlawanan
(jika yang satu positif yang lain negatif) maka nilai r akan negatif. Nah misalnya ada seratus subjek memiliki nilai X dan Y. Lalu
kita hitung satu-satu nilai Z dari X dan Y untuk tiap subjek. Tentu saja ada
beberapa yang sangat sepakat yang lain agak sepakat yang beberapa berlawanan.
Kemudian nilai-nilai Z ini dijumlahkan sehingga jika yang sepakat lebih banyak
akan menghasilkan angka positif. Kalo yang berlawanan lebih banyak akan
menghasilkan angka negatif. Kemudian hasil penjumlahan ini dicari rata-ratanya. Jadi bisa dibilang nilai r itu akan menggambarkan rata-rata
keadaan X dan Y dari semua subjek dalam kelompok. Ribet ya? OK...OK... contohnya begini : misalnya ada sekelompok orang di stadion. Beberapa dari mereka (misalnya 80 orang) mengenakan baju hijau dan celana hijau, sisanya baju hijau celana merah (idih norak banget yak...). Kalo kamu ditanya bagaimana pakaian mereka? kita bisa bilang kebanyakan berpakaian sepakat hijau-hijau, karena tingkat kesepakatan hijau-hijau lebih dominan. Jadi bisa dibilang korelasi baju dan celana di kelompok itu positif. Semoga bisa lebih jelas ya. Further Study: |
