| Hipotesis Penelitian |
|
Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis penelitian. Penelitian kuantitatif yang bersifat eksploratoris dan deskriptif tidak membutuhkan hipotesis. Oleh karena itu subbab hipotesis penelitian tidak harus ada dalam skripsi, tesis, atau disertasi hasil penelitian kuantitatif. Secara prosedural hipotesis
penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis
penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang diperoleh
dari kajian pustaka. Hipotesis mrupakan jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin dan paling tinggi
tingkat kebenarannya. Namun secara teknis, hipotesis penelitian dicantumkan
dalam Bab I (Bab Pendahuluan) agar hubungan antara masalah yang diteliti dan
kemungkinan jawabannya menjadi lebih jelas. Atas dasar inilah, maka di dalam
latar belakang masalah harus sudah ada paparan
tentang kajian pustaka yang relevan dalam bentuknya yang ringkas. Rumusan hipotesis hendaknya
bersifat definitif atau direksional. Artinya, dalam rumusan hipotesisi tidak
hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antarvariabel, bagian akhir
kajian dalam tesis dan disertasi perlu ada bagian tersendiri yang berisi
penjelasan tentang pandangan atau kerangka berpikir yang digunakan peneliti
berdasarkan teori-teori yang dikaji. Pemilihan bahan pustaka yang akan
dikaji didasarkan pada dua kriteria, yaitu: (1) prinsip kemutakhiran (kecuali
utuk penelitian historis) dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran
penting karena ilmu berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada
suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya. Dengan prinsip
kemutakhiran, penelitian dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu
itu dipandang paling representatif. Hal seruap berlaku juga terhadap telaah
laporan-laporan penelitian. Prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan
kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. |