| Pedoman Wawancara |
|
Pengertian Wawancara Charles Stewart dan W. B. Cash
mendefinisikannya sebagai “sebuah proses komunikasi berpasangan dengan suatu
tujuan yang serius dan telah ditetapkan sebelumnya yang dirancang untuk
bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab” Robert Kahn dan Charles Channel
mendefinisikan wawancara sebagai “suatu pola yang dikhususkan dari interaksi
verbal – diprakarsai untuk suatu tujuan tertentu, dan difokuskan pada sejumlah
bidang kandungan tertentu, dengan proses eliminasi materi yang tak ada kaitannya
secara berkelanjutan”. Karena kata “mewawancarai” dalam
penggunaan sehari-hari mengacu pada begitu banyak jenis interaksi yang
berbeda-beda, sulit untuk menulis satu definisi yang mampu mengakomodasi
semuanya. Meskipun demikian, penting bagi kita untuk menetapkan sebuah definisi
mendasar sebagai sebuah kerangka acuan. Oleh karenanya, kami mendefinisikan
wawancara sebagai suatu bentuk yang dikhususkan dari komunikasi lisan dan
bertatap muka antara orang-orang dalam sebuah hubungan interpersonal yang dimasuki
untuk sebuah tujuan tertentu yang diasosiasikan dengan pokok bahasan tertentu.
Pembahasan mengenai beberapa istilah kunci dari definisi ini akan menjadikannya
lebih bermakna. Ciri Wawancara ·
Wawancara biasanya adalah suatu pertukaran lisan yang saling berhadapan
langsung. Orang-orang yang terlibat berada di hadapan yang lainnya dan melisankan
pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan dengan suara keras. Ini memberikan
wawancara sejumlah keuntungan dibandingkan dengan kuesioner, karena (a) para
responden memiliki kemungkinan lebih besar untuk berbicara lebih banyak
dibandingkan dengan menulis, (b) orang-orang menjadi lebih termotivasi dengan
kehadiran orang lain, dan (c)
pertukaran-pertukaran lisan menawarkan lebih banyak peluang-peluang
langsung untuk menyelidik, mengklarifikasi jawaban-jawaban dan memberikan
feedback. ·
Orang-orang dalam sebuah wawancara
berada dalam sebuah hubungan interpersonal. Meskipun demikian, variasi-variasi
tertentu dari wawancara bisa mencakup orang-orang dalam kelompok-kelompok.
Umumnya, peran pewawancara akan dikembangkan dalam hal tiga fungsi utamanya:
(1) merencanakan strategi-strategi, (2) melaksanakan atau mengatur wawancara,
dan (3) mengukur hasil-hasilnya. Masing-masing dari ketiga hal ini dikembangkan
secara lebih lengkap dalam Bab 2 sampai 6. Tujuan, Aspek dan Hal-hal yang Mempengaruhi Wawancara Orang-orang melakukan wawancara
untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan tugas; mereka punya sesuatu yang
ingin mereka capai, yakni, menyeleksi seseorang untuk suatu pekerjaan,
mengumpulkan data penelitian, menerima pasien, atau menulis kisah berita.
Tujuan terkait tugas inilah yang membedakan wawancara dari sekedar perbincangan
biasa. Suatu percakapan bisa sampai kemana saja; akan tetapi, wawancara harus
difokuskan pada kandungan isi yang sesuai dengan tujuan anda. Wawancara adalah suatu bentuk
yang khusus dari komunikasi oral dan berhadapan muka dalam suatu hubungan
interpersonal yang dimasuki untuk sebuah tujuan tertentu yang diasosiasikan
dengan pokok bahasan tertentu. Keefektifannya bisa dinilai dalam hal tujuan
wawancara, teknik-teknik yang digunakan, kerangka waktunya, sudut pandang orang
yang melakukan evaluasi, dan reliabilitas dan validitas informasi yang
diperoleh. Hal-hal yang mempengaruhi
interpretasi pewawancara terhadap pesan-pesan adalah: motivasi, tujuan,
persepsi, pola pikir, keahlian bahasa, sikap, dan memori. Hal-hal ini juga
mempengaruhi interpretasi yang diwawancarai mengenai isi wawancara. Aspek-aspek wawancara yang dapat
direncanakan adalah tujuan-tujuan, pertanyaan-pertanyaan, setting, dan reaksi
terhadap permasalahan-permasalahan khusus. Perencanaan semacam itu bisa
memberikan kesiapan bagi si pewawancara untuk semua kemungkinan-kemungkinan
yang mungkin muncul dalam wawancara. Proses-proses yang berhubungan
dengan melaksanakan wawancara adalah mensetting suasananya, mendengarkan,
menyelidiki, memotivasi, dan mengendalikan wawancara. Hal-hal ini melibatkan
suatu teknik komunikasi tingkat tinggi, dan panduan-panduan yang relevan. Wawancara Efektif Kata “profesional” yang digunakan
untuk mewawancarai menyiratkan bahwa ada beragam tingkat kemahiran dalam
keahlian-keahlian (skill) yang dibutuhkan untuk mewawancarai secara efektif.
Felix Lopez membandingkan pewawancara profesional dengan seorang musisi profesional. Mewawancarai hampir sama dengan
bermain piano – skill yang cukup bisa diperoleh tanpa membutuhkan latihan
formal. Tapi ada dunia yang berbeda dalam keterampilan, dalam hal teknik, dan
dalam kemahiran antara seorang amatir yang bermain “dengan menggunakan telinga”
dan seorang pianis konser yang ahli. Pemain yang belajar sendiri secara mekanis
pada keyboardnya memainkan melodi-melodi tertentu yang melekat pada ingatannya;
sang seniman, yang dengan ahli menggabungkan penguasaan teori musik, latihan yang
tak terhitung lamanya, dan interpretasi pribadi, menciptakan suatu efek yang
secara teknik pas, menyenangkan di telinga para pendengar, dan mengekspresikan
perasaan paling mendalam dari sang pianis. seleksi penelitian
publik penilaian telepon konseling fokus disipliner jurnalistik ke luar
(exit) siaran penelitian
internal konferensi
pers negosiasi medis Salah apabila kita mengidentifikasi
bahwa satu jenis wawancara relevan untuk satu jenis pekerjaan saja. Satu
miskonsepsi lainnya yang umum terjadi adalah bahwa wawancara hanyalah sebuah
percakapan. Meskipun wawancara yang baik mungkin terlihat seperti percakapan,
ada beberapa poin-poin penting yang membedakannya dengan percakapan semata.
Mewawancarai telah didefinisikan dengan cara-cara yang berbeda. Umumnya, peran pewawancara akan
dikembangkan dalam hal tiga fungsi utamanya: (1) merencanakan
strategi-strategi, (2) melaksanakan atau mengatur wawancara, dan (3) mengukur
hasil-hasilnya. Orang-orang melakukan wawancara
untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan tugas; mereka punya sesuatu yang
ingin mereka capai, yakni, menyeleksi seseorang untuk suatu pekerjaan,
mengumpulkan data penelitian, menerima pasien, atau menulis kisah berita.
Tujuan terkait tugas inilah yang membedakan wawancara dari sekedar perbincangan
biasa. Suatu percakapan bisa sampai kemana saja; akan tetapi, wawancara harus
difokuskan pada kandungan isi yang sesuai dengan tujuan anda. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Wawancara ·
Oleh karena wawancara pada
dasarnya merupakan suatu bentuk komunikasi antar pribadi yang unik, akan
bermanfaat apabila kita mengawali analisis kita dengan sutu model komunikasi
yang umum. ·
Komunikasi dalam wawancara sebagai
suatu proses timbal balik. Kedua orang dalam sebuah wawancara memberikan
kontribusi pada interaksi, dan keefektifan upaya-upaya mereka bergantung pada
kerjasama timbal balik. Tak satupun dari keduanya yang memiliki kendali
eksklusif atas perilaku komunikasi orang satunya, dan salah satunya sama-sama
bisa memilih untuk menghentikan komunikasi. ·
Menciptakan suatu suasana dimana
si interviewee bersedia untuk berkomunikasi. ·
Komunikasi dua arah umumnya lebih
efektif dari komunikasi satu arah. Komunikasi satu arah dicirikan oleh
pesan-pesan yang pada dasarnya berjalan ke satu arah saja, misalnya, dari
pewawancara ke yang diwawancarai. Pengirimnya tidak begitu tertarik pada
respon-respon, pertanyaan-pertanyaan, komentar-komentar, atau reaksi-reaksi
dari si penerima. Sebagai akibatnya, dalam sebuah situasi satu arah si
pewawancara tidak merasa bahwa sudah terjadi saling pengertian atau bahwa
pesannya sudah efektif karena tidak ada umpan balik (feedback). (Banyak orang
yang merasa nyaman dengan situasi satu arah karena hal ini efisien dalam hal
menghemat waktu dan mereka tidak harus merasa khawatir tentang reaksi mereka
terhadap pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar) ·
Tentukan feedback menjadi alat
penentu arah dari tujuan wawancara. ·
Pesan-pesan dikirimkan ke dua
arah, sehingga kedua individu sama-sama berpartisipasi sebagai pengirim dan
penerima, dan masing-masing harus mau menerima respon-respon, atau feedback,
yang diterima dari orang lainnya. Komunikasi dua arah membutuhkan waktu. ·
Eksperimen dan latihan-latihan
telah menunjukkan bahwa upaya dan waktu yang lebih banyak, dan kesediaan untuk
menerima feedback berperan besar dalam meningkatkan kemungkinan bahwa
orang-orang yang terlibat akan saling memahami satu dengan yang lainnya. ·
Hindari keliru mengasumsikan
mereka sudah tahu dengan pasti hasil-hasil yang mereka inginkan, si penerima
pasti juga tahu. Sehingga, mereka seringkali mengabaikan untuk memberikan
rincian-rincian penjelas. ·
Kadangkala harapan untuk
mendapatkan feedback tidak pernah diartikulasikan, dan orang-orangpun tidak
memberikannya. Sebagai contoh, dulu ada seorang interviewee yang mendengarkan
beberapa instruksi dari seorang interviewer. Komentarnya cuma, “Ya, pak”. ·
Anda mungkin harus membuat
permintaan yang jelas bahwa anda menginginkan feedback dan membangun suatu
situasi yang memungkinkan orang yang diwawancarai untuk memberikan feedback
tersebut. ·
Wawancara-wawancara terjadi karena
suatu tujuan, dan memfokuskan pada jenis-jenis informasi tertentu. Salah satu
karakteristik dari pewawancara yang baik adalah kemampuan untuk mengendalikan
interaksi sehingga tujuan wawancara tercapai. Hal ini berarti bahwa tidak semua
komentar atau respon relevan. Oleh karenanya, anda mungkin perlu menetapkan
batasan-batasan mengenai jenis respon yang tepat. ·
Tingkatan kendali yang diperlukan
dalam suatu wawancara sangatlah bervariasi. Pada wawancara-wawancara medis,
penelitian, dan bisnis tertentu kendali mungkin cukup mudah untuk dipertahankan
dan cukup penting; dalam wawancara-wawancara jurnalistik dan untuk memperoleh
informasi, dimana orang yang diwawancarai tidak selalu harus mau bekerja sama
dengan anda, kendali mungkin merupakan sesuatu yang hampir mustahil untuk
dipertahankan. ·
Karena feedback adalah dimensi
wawancara yang penting, anda perlu melakukan upaya yang sangat penuh kesadaran
dan terencana untuk mendapatkan feedback apabila tidak diberikan secara
sukarela. Saran-saran berikut adalah teknik-teknik yang sangat bermanfaat guna
menghasilkan feedback: (1) meminta feedback; (2) mendengarkan ketika diberikan;
(3) melatih orang-orang agar merasa anda mau menerima feedback; dan (4)
mempertahankan suasana yang memungkinkan adanya feedback. ·
Tiap komunikator membutuhkan
skill-skill mengirimkan dan menerima yang seimbang. Seringkali ketika
orang-orang berpikir tentang komunikasi dalam kaitannya dengan mengirimkan dan
menerima, mereka menganggap satu orang sebagai pengirim dan orang lainnya
sebagai penerima. Hal ini patut disayangkan karena satu orang kemudian ditandai
sebagai pembicara dan orang lainnya sebagai pendengar. Tentu saja, anda
memerlukan kecakapan dalam berbahasa agar bisa mengekspresikan
pemikiran-pemikiran anda dengan baik. Tapi, sayangnya kebanyakan orang memiliki
latihan yang lebih banyak dalam mengemukakan daripada dalam mendengarkan. Oleh
karena itu, kami menggaris bawahi mendengarkan sebagai salah satu kunci dari
skill-skill mewawancarai dan berkomunikasi. ·
Masing-masing orang adalah filter
komunikasi yang unik; karenanya, selalu siap untuk perbedaan-perbedaan. Dalam
beberapa hal tiap orang tidak sama dengan tiap-tiap orang lainnya; tidak ada
dua orang yang benar-benar serupa. Ini yang membuat komunikasi menjadi begitu
menantang; dua orang yang memiliki perbedaan dalam hal-hal yang penting, yang
memiliki tujuan-tujuan berbeda, yang menggunakan bahasa secara berbeda, dan
yang memiliki gaya-gaya berkomunikasi yang berbeda pula kemudian saling berbagi
kesamaan yang mereka miliki. ·
Salah satu penyebab terbesar dari
permasalahan-permasalahan komunikasi adalah bahwa kita menganggap bahwa
orang-orang sama seperti diri kita sendiri dan bukannya menyesuaikan diri
dengan fakta bahwa mereka mungkin berbeda dalam beberapa hal. ·
Keefektifan diukur dalam kaitannya
dengan sejumlah ukuran-ukuran berbeda. Bagaimana mengukur keefektifan? ·
Anda harus menilai keefektifan
anda berdasarkan hasil-hasilnya. Tentu saja ini menyiratkan bahwa anda mampu
mengidentifikasi apa tujuan-tujuan anda dengan pasti. Seorang pewawancara
profesional secara otomatis mengidentifikasikan sebuah tujuan. ·
Kadang-kadang, para pewawancara
menilai keefektifan dengan teknik-teknik yang telah mereka gunakan. ·
Memfokuskan pada teknik-teknik,
serta belajar bagaimana cara menghindari pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya
mengarahkan. ·
Semua wawancara tersusun atas dua
dimensi penting yang bisa dianalisa keefektifannya: kandungan isi dan hubungan.
Yang cenderung akan lebih difokuskan adalah isi. Hendaknya melakukan wawancara
untuk mendapatkan informasi atau untuk memberikan informasi. Akan tetapi,
menganggap bahwa hubungan antar pewawancara dan orang yang diwawancarai sama
pentingnya dalam kebanyakan situasi. Bahkan, sifat-dasar hubungan tersebut bisa
menentukan apakah informasi tertentu telah disampaikan selama wawancara atau
tidak. ·
Sebuah wawancara bisa saja juga
memiliki beberapa tujuan dan, karenanya, hasil-hasil yang bermacam-macam. ·
Guna menilai keefektifan, anda
juga harus bertanya “dari sudut pandang siapa?”. ·
Suatu kriteria yang vital untuk
menilai keefektifan adalah konsep validitas. Hal ini mengacu pada tingkatan
anda mengamati, menerima, atau mengukur apa yang anda pikir sedang anda amati,
terima, atau ukur. Cara lain untuk memandang validitas adalah dengan bertanya,
“Apakah saya benar-benar mendapatkan informasi yang sesuai kenyataan?”.
Kadangkala validitasnya rendah karena orang-orang cenderung untuk berbohong,
menipu, atau hanya menjawab sebagian saja. Pada saat yang lain validitas
terhambat oleh kekurang memadaian teknik-teknik dan kecenderungan-kecenderungan
terhadap interpretasi-interpretasi yang bias dari informasi-informasi yang
sedang diterima. Maka, ini berarti bahwa semua rintangan komunikasi nyata yang
ditemukan dalam wawancara bisa menurunkan akurasi dalam mendapatkan atau
memberikan informasi dan, karenanya, mengurangi validitas wawancara. Yang agak
berhubungan dengan validitas adalah konsep reliabilitas sebagai sebuah faktor
dalam menilai keefektifan. Reliabilitas adalah tingkatan sampai sejauh mana
anda akan mendapatkan hasil-hasil yang sama apabila anda atau pewawancara lain
hendak melakukan wawancara yang sama dengan orang-orang yang sama pula. Apabila
dua orang mewawancarai orang yang sama tentang topik yang sama dan tidak
mendapatkan informasi yang konsisten, maka berarti ada yang salah, dan
hasil-hasil dari kedua pewawancara tersebut akan dipertanyakan. Sekali lagi,
ketidaksesuaian mungkin terjadi karena suatu perubahan yang disengaja oleh
orang yang diwawancarai atau karena sejumlah ketidak konsistenan atau kekurang
memadaian di pihak si pewawancara. Sebagai contoh, Herbert Hyman
melaporkan sejumlah penelitian yang mempertanyakan reliabilitas data. Dalam sebuah penelitian, pewawancara kulit
hitam dan kulit putih mensurvey sebuah sampel orang-orang kulit hitam dan
mendapatkan informasi yang berbeda. Si pewawancara berkulit hitam melaporkan
lebih banyak kebencian mengenai diskriminasi dibandingkan si peneliti yang
berkulit putih. Kenapa bisa? Kita tidak tahu pasti. Apakah orang-orang kulit
hitam tersebut dengan sengaja menahan informasi, atau apakah orang secara
perseptual telah dibutakan atau bias? Kita tidak tahu. Akan tetapi, fakta bahwa
kedua kelompok tersebut berbeda membuat kita mempertanyakan reliabilitas data.
Ada banyak penelitian seperti milik Hyman. Demikian pula, ketika dua orang
petugas perekrutan memiliki penilaian yang jauh berbeda mengenai seorang
kandidat yang sama, maka reliabilitasnya rendah. Karena jawaban-jawaban
interviewee tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, ·
Meskipun wawancara pada dasarnya
merupakan pertukaran oral, kuesioner dan resume-resume seringkali digunakan di
dalam wawancara sebagai pelengkap. Namun, yang lebih penting lagi adalah fakta
bahwa situasi empat-mata memungkinkan pesan-pesan visual dan non-verbal menjadi
aspek-aspek penting dari wawancara. Hal-hal tersebut jangan sampai diabaikan.
Kadang-kadang, pesan-pesan visual ini memperkuat pesan-pesan verbal; pada
saat-saat lainnya, mungkin malah bertentangan. Sebagai contoh, seseorang
mungkin berkata, “Saya merasa nyaman, terima kasih” namun pada saat yang sama
dia meremas-remas sapu tangannya dan dengan gelisah mengedarkan pandangannya ke
sekeliling ruangan. |
