Cara Menulis Kesimpulan Skripsi
Salah satu bagian yang menjadi favorit saya dalam menilai sebuah tesis atau laporan tugas akhir adalah bagian Kesimpulan. Kesalahan pada bagian ini sangat mudah dicermati. Seringkali mahasiswa menuliskan kesimpulan yang sebetulnya bukan hasil dari penelitian yang dilakukannya. Atau kesimpulan yang dituliskannya tersebut tidak dibuktikan dalam penelitiannya. Tiba-tiba muncul pernyataan pada bagian kesimpulan. Atau, kesimpulannya sebetulnya merupakan common sense, atau pengetahuan yang sudah diketahui secara umum.

Sebagai contoh, apa yang salah dari kesimpulan berikut. Program (software) ini berjalan lebih cepat pada komputer Pentium IV dengan kecepatan 1 GHz, dibandingkan jika dia dijalankan di komputer Pentium II dengan kecepatan 233 MHz. Kesimpulan seharusnya merupakan hasil penelitian anda. Dengan kata lain, jika tidak ada penelitian yang anda lakukan maka kesimpulan tersebut tidak dapat ditarik.

Ada lagi triks dalam membuat kesimpulan sebuah penelitian. Secara gampangnya mestilah sebuah kesimpulan pada sebuah penelitian itu menjawab dari dari rumusan masalah. Jika rumusan masalah yang kita pakai ada 5 item, maka minimal kesimpulan kita haruslah ada 5 item yang menjawab dari permasalahan tersebut. Alangkah kurang pas, jika Rumusan Masalah mengajukan A, sementara kesimpulan menjawab B, begitu seterusnya. Jadi jangan sampai menuliskan kesimpulan yang tidak menjawab rumusan masalah.

Sedangkan untuk saran sendiri lebih memuat kendala yang dihadapi dalam optimalisasi sebuah idealisasi yang kita jumpai dalam proses penelitian. Pastilah ‘dunia teori’ dan ‘alam praktek’ ada kesenjangan di antara keduanya. Tugas saranlah menjembatani keduanya. Researcher yang baik memang harus memasang mata ketiga dalam sebuah analisis yaitu tetap menyimpan di dalam benaknya, idealnya harus begini.. harus begini.. tetapi jangan sampai masuk ke dalam proses dan hasil penelitian itu sendiri yang dengan otomatis akan mengurangi objektivitas hasil penelitian itu sendiri.

 

 


 

Tahukan Anda...

Saya pernah mampir makan di sebuah warung di Jombang bersama sahabat saya. Biasa, ngobrol ngalor-ngidul selalu menjadi bumbu perbincangan diantara kami. Tengah asyik ngobrol, tiba-tiba ada orang memakai sarung dan berpeci menghampiri kami berdua. Orang itu kemudian berkata “Dik, di dunia jangan senang-senang, karena bersenang-senang itu tempatnya di syurga. Begitu pula, jangan terlalu susah-susah, karena susah itu tempatnya di neraka”. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “Nah bagaimana kalo kita di dunia? ”. kami berdua diam saja sambil senyum. Akhirnya beliau jawab sendiri “jadi selagi kita hidup di dunia, santai-santai saja

 

© Copyright 2008 infoskripsi.com.
Some rights reserved. Re-Design by: infoskripsi
Infoskripsi